Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ngopi di Pinggir Sawah Jadi Trend, Penikmat Kopi Bisa Menikmati Pemadangan Pegunungan

Juliadi Radar Bali • Sabtu, 21 Desember 2024 - 15:54 WIB

 

Suasana Nyarik Kopi yang berjualan dipinggir sawah di Subak Bangkyang Sidem, Desa Babahan Penebel Tabanan.
Suasana Nyarik Kopi yang berjualan dipinggir sawah di Subak Bangkyang Sidem, Desa Babahan Penebel Tabanan.

radarbuleleng.id- Konsep ngopi di pinggir sawah kini menjadi trend saat ini. Menikmati secangkir kopi biasanya lebih banyak dijumpai pada kedai-kedai atau cafe-cafe kopi.

Tetapi di Tabanan hal yang unik menikmati kopi berada di pinggir lahan pertanian plus melihat pemandangan pegunungan.

Konsep ngopi itulah yang disuguhkan oleh Nyarik Kopi. Bisnis menjual kopi dengan mangkal di pinggir sawah itu dilakukan oleh seorang pemuda desa asal Desa Babahan Penebel Tabanan yang berjualan bersama istrinya.

Nyarik kopi tersebut mangkal di Subak Bangkyang Sidem, Desa Babahan Penebel Tabanan.

Dari Kota Tabanan untuk menuju lokasi itu harus menempuh perjalanan sekitar satu jam.

Ketika mengunjungi lokasi itu, deretan motor berjejer rapi di lokasi parkir sebelum menuju lokasi Nyarik Kopi yang berada ditengah areal subak.

Antrian panjang juga tampak terlihat dari para pengunjung yang akan menikmati kopi dipinggir sawah.

Yang lebih menarik lagi ternyata Nyarik Kopi mangkal menggunakan sebuah sepeda motor Honda Prima Jadul  bernopol DK 7238 QF.

"Memulai usaha Nyarik Kopi sejak November lalu, kalau dihitung sekarang sudah berjalan sekitar setahun," sebut I Putu Hery Dana, pemuda yang membuka usaha kopi di Subak Bangkyang Sidem, Babahan ditemui belum lama ini ditemani istrinya Ni Made Wulan Kencana.

Ia mengaku inspirasi awal membuat Nyarik Kopi atau ngopi berada di pinggir sawah sejatinya dari pedagang-pedagang kopi keliling yang membawa gerobak atau sepeda motor.

Akan tetapi mereka tidak mangkal disawah melainkan di kota-kota atau berada dipinggir jalan. Semacam starling.

Sehingga ia mencoba mengkemas dengan lebih yang berbeda bagaimana menikmati kopi berada di pinggir sawah yang kental dengan kehidupan masyarakat pedesaaan dan petani.

"Maka saya kemas berjualan kopi dipinggir sawah dengan nama Nyarik Kopi," ucap pria berusia berusia 33 tahun. 

Selanjutnya untuk nama Nyarik Kopi sebenarya biar agar lebih mudah mengingatnya.

Nyarik bisa diartinya sawah atau bisa juga mencari. Namun yang menarik bagaimana menyuguhkan penikmat kopi sambil menikmati sawah dan alam pegunungan Tabanan.

Kemudian untuk pelanggan sendiri dominan menyasar low bazed kalangan menengah kebawah. Karena Nyarik Kopi menjual makanan khas desa. Seperti keladi rebus, pisang rebus dan jajanan tradisional.

"Biasanya pelanggan akan ramai saat hari weekend Sabtu dan Minggu. Untuk mangkal sendiri mulai dari pukul 06.00 sampai 09.00 pagi. Sekali mangkal bisa ratusan cup kopi terjual," tuturnya.

Putu Hery menambahkan Nyarik Kopi yang cukup dikenal luas dan banyak warga yang tahu.

Bahkan dari wilayah Denpasar, lantaran pemasaran dilakukan melalui media sosial berupa instagram dan tiktok.

Selain itu setiap kali mangkal berjualan selalu ia informasi lebih awal melalui media sosial.

"Kalau kami mangkal tidak rutin namun reguler. Bahkan sesekali melakukan kolaborasi bersama teman untuk mangkal di lokasi subak lainnya. Termasuk pula mengikuti event," tandasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#desa babahan #bisnis kopi #subak #Pinggir sawah #ngopi #pegunungan