Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Petani Cabai di Bali Merugi, Tanaman Diserang Hama hingga Curah Hujan yang Tinggi

Ida Bagus Indra Prasetia • Sabtu, 11 Januari 2025 | 17:35 WIB
Buah cabai milik petani di Subak Kumpul alami gagal panen akibat curah hujan tinggi.
Buah cabai milik petani di Subak Kumpul alami gagal panen akibat curah hujan tinggi.

radarbuleleng.jawapos.com- Petani cabai di Subak Kumpul, Desa Blahbatuh, harus gigit jari.

Musim hujan berkepanjangan dengan debit air yang besar membuat tanaman cabai seluas 5 hektare membusuk. Selain curah hujan, tanaman cabai juga diserang hama ulat putih. 

Pekaseh Subak Kumpul Gusti Ngurah Adnyana menyatakan, petani tidak bisa berbuat banyak atas kondisi ini. 

”Musim hujan kali ini menyebabkan tanaman kami kelebihan air, yang membuat tanaman cabai tidak tahan dan akhirnya membusuk,” ujar Adnyana, Kamis (9/1). 

Kerusakan tanaman diawali dari kondisi daun yang keriting. ”Kemudian batangnya menjadi layu, dan akhirnya banyak daun dan buah yang jatuh,” jelasnya. 

Dari total area tanam cabai seluas 5 hektare, sebagian besar tanaman mengalami kerusakan.

”Sekitar 15 persen tanaman cabai yang tersisa dalam kondisi baik. Sisanya sudah gagal panen,” ujar Adnyana pasrah.

Adnyana bahkan sempat memamerkan buah cabai yang mulai menguning. Hanya saja, warna kuningnya pucat, cenderung kecokelatan. 

Ketika kulit cabai disobek, biji di dalamnya tampak cokelat. Biasanya, cabai segar, bijinya kuning muda dan aromanya pedas. 

Petani mengaku mengalami kerugian yang cukup besar. Bahkan, dengan kondisi yang terus memburuk, kerugian diperkirakan bertambah banyak lagi. 

Dari hitung-hitungan yang dikalkulasi, investasi awal di cabai cukup tinggi. 

Dari bibit hingga pupuk diperlukan biaya sekitar Rp 7 juta untuk 700 pohon cabai per are. ”Sekarang dikalikan luas lahan 5 hektare,” terangnya. 

Dilema datang di tengah kemelut ini. Sebab, di pasar harga cabai justru meroket tajam. Berdasarkan pantauan, harga cabai rawit menyentuh Rp 100 ribu per kilogram. 

Meski demikian, para petani harus menghadapi kenyataan bahwa tanaman mereka tidak dapat dipanen secara maksimal.

Untuk mengurangi kerugian, beberapa petani terpaksa memetik cabai yang masih muda meskipun kualitasnya belum optimal.

”Daripada membusuk, lebih baik kami mencoba menjual cabai yang masih bisa diselamatkan,” ungkapnya. 

Para petani berharap, ada perhatian dari pemerintah. Terutama mengenai langkah mitigasi yang lebih baik di musim hujan mendatang.

Tujuannya supaya petani dapat mengurangi dampak kerugian yang dialami dan mempertahankan kelangsungan usaha pertanian. ***

Editor : Donny Tabelak
#musim hujan #cuaca buruk #petani cabai merugi #harga cabai meroket