Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ketika Walter Spies ‘Kembali’ ke Bali Lewat Pameran dan Film

Marsellus Pampur • Senin, 21 April 2025 | 00:48 WIB

 

MENGENANG WALTER SPIES: Seniman Made Bayak (kiri) dan Project Manager Pameran, Yudha Bantono (kanan). Mereka menggelar pameran untuk memperingati 100 tahun kehadiran Walter Spies.
MENGENANG WALTER SPIES: Seniman Made Bayak (kiri) dan Project Manager Pameran, Yudha Bantono (kanan). Mereka menggelar pameran untuk memperingati 100 tahun kehadiran Walter Spies.

RadarBuleleng.id – Dalam rangka memperingati 100 tahun kehadiran Walter Spies di Bali, Yayasan Budaya Internasional Kulturstiftung Basel H. Geiger menggelar pameran bertajuk ROOTS. 

Pameran tersebut akan berlangsung di Museum Arma, Ubud, Gianyar, Bali, pada 24 Mei hingga 14 Juni 2025. 

Pameran tersebut menghadirkan pameran seni sekaligus pemutaran film dokumenter fiksi karya Michael Schindhelm, seniman sekaligus kurator asal Jerman-Swiss.

Project Manager pameran, Yudha Bantono mengatakan, sosok Walter Spies sengaja diangkat menjadi tema sentral. Alasannya, Walter Spies sangat berkontribusi dalam membentuk wajah budaya Bali. 

“ROOTS bukan hanya pameran seni, tapi juga upaya menggali kembali pengaruh mendalam Walter Spies terhadap lanskap budaya Bali, yang jejaknya masih terasa hingga hari ini,” ungkap Yudha.

Salah satu pusat perhatian dalam pameran ini adalah Villa Iseh di Karangasem. Villa itu tempat tinggal yang dibangun Spies pada tahun 1937. 

Villa tersebut dulunya menjadi tempat peristirahatan pribadi sang pelukis. Belakangan menjadi persinggahan para tokoh dunia seperti David Bowie, Yoko Ono, hingga Mick Jagger.

Baca Juga: Keren, Fotografer Senior Rio Helmi Gelar Pameran Taksu Tak Terduga di Ubud

Melalui pameran tersebut , para pengunjung diajak menyelami peran Villa Iseh sebagai simbol awal interaksi budaya antara Bali dan dunia luar. 

Adapun tema yang diangkat mencakup isu pariwisata massal, krisis lingkungan, dan identitas budaya Bali dalam tekanan globalisasi.

Film dokumenter fiksi ROOTS karya Michael Schindhelm juga akan hadir dalam pameran. Film ini menggambarkan Walter Spies sebagai “roh” yang menghantui lanskap Bali modern.

“Melalui film ini, penonton diajak mengikuti perjalanan Walter Spies melintasi Bali masa kini, 99 tahun setelah kunjungan pertamanya. Ini seperti dialog lintas zaman antara masa lalu dan masa kini,” terang Schindhelm.

Pameran juga melibatkan dua seniman kontemporer asal Bali, Made Bayak dan Gus Dark. Mereka menyajikan karya seni visual, grafis, instalasi, dan patung. 

Karya dari Made Bayak dan Gus Dark menyoroti perjuangan masyarakat Bali dalam mempertahankan jati diri budaya di tengah tantangan modern, termasuk isu politik, sosial, hingga lingkungan.

“Lewat karya ini, kami mengkritisi realitas Bali saat ini. Ada refleksi tentang sejarah, termasuk tragedi 1965, dan bagaimana hal itu membentuk kondisi budaya kita sekarang,” ujar Made Bayak, yang juga dikenal sebagai musisi.

Schindhelm menjelaskan bahwa pameran dan film dokumenter ROOTS merupakan bagian dari proyek memori kolektif. Tujuannya adalah memahami peran budaya Barat terhadap transformasi Bali, dari sebuah pulau spiritual menjadi destinasi wisata dunia.

“Kita mencoba menempatkan warisan Walter Spies ke dalam konteks sejarah yang utuh. Perjalanan Bali hingga hari ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sosok-sosok seperti dia,” katanya.

Film ROOTS juga akan diputar di beberapa lokasi di Bali mulai 21 Mei hingga 14 Juni 2025. Puncaknya adalah pemutaran spesial di Museum Arma.

Walter Spies merupakan ahli etnografi terkemuka di dunia. Dia datang ke Indonesia sejak 1920, dan mulai menetap di Bali sejak 1927.

Dia ikut mengenalkan Bali sebagai destinasi budaya dan spiritual ke masyarakat Internasional. 

Wisatawan dan seniman dari Eropa dan Amerika berdatangan ke Bali setelah membaca tulisan atau melihat lukisan Walter Spies tentang Bali.

Dia juga mempelopori berdirinya Pita Maha, sebuah organisasi yang membina para seniman Bali untuk menggabungkan teknik lukis tradisional dengan pengaruh modern.

Tak hanya itu, Walter Spies juga banyak mereka tarian dan kehidupan ritual di Bali. Videonya itu semakin membuka mata masyarakat dunia terhadap Bali. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #villa #museum #lingkungan #pariwisata #KURATOR #ubud #yayasan #pameran #Walter Spies #seni #budaya #film dokumenter