RadarBuleleng.id - Harapan warga Banjar Giri Dharma, Desa Ungasan, Kabupaten Badung, Bali, untuk bisa benar-benar bebas dari tembok Garuda Wisnu Kencana (GWK) belum sepenuhnya terwujud.
Meski manajemen GWK mulai membongkar pagar beton pada Selasa (1/10/2025), nyatanya pembongkaran hanya dilakukan pada akses jalan.
Sementara tembok yang menutup rumah warga masih berdiri kokoh. Akibatnya, rasa lega warga pun belum sepenuhnya terjawab.
Mereka masih merasa terkungkung, seolah terisolasi di tengah gegap gempita kawasan pariwisata GWK.
Nyoman Tirtayasa, 53, salah seorang warga yang terdampak, menuturkan betapa tersiksanya ia dan keluarganya selama setahun terakhir. Rumah dan akses jalan menuju luar tertutup tembok beton.
”Sebelumnya kami merasa terkekang ada di dalam. Belum lagi ada yang sakit dari keluarga saya. Kemudian ada meninggal keluarga saya. Kemudian juga saya punya upacara keagamaan yang kemarin-kemarin ada anak saya menikah,” ujarnya.
Tirtayasa mengaku, aktivitas pribadi hingga kegiatan adat benar-benar terganggu. Apalagi, masyarakat Bali setiap hari tak lepas dari aktivitas keagamaan.
Situasi makin memilukan ketika ada warga meninggal, warga terpaksa melewati semak-semak untuk keluar.
Ia menegaskan bahwa yang ditutup GWK bukanlah jalan pribadi, melainkan jalan umum milik Pemkab Badung.
”Kami tidak minta berlebihan. Yang kita minta adalah akses masyarakat yang mana itu merupakan fasilitas umum atau jalan raya. Buktinya kalau ini kita lihat ini sudah diaspal,” tegasnya.
Harapan Tirta, tembok yang menutup jalan bisa dibuka seluruhnya sesuai rekomendasi DPRD Bali.
”Harapan warga, tembok parameternya ini supaya dipindahkan lah dia ke areanya GWK yang mereka punya. Artinya fasilitas jalan ini jangan ditutup lah,” pintanya.
Bendesa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa, ikut mempertanyakan sikap manajemen GWK.
Disel mengaku tidak mengetahui bahwa pembongkaran hanya dilakukan di depan rumah warga dan akses jalan tertentu, bukan secara menyeluruh di Lingkar Barat.
”Seharusnya semua pembongkaran dilakukan di lingkar barat menuju Pura Pengulapan,” katanya.
Pria yang juga Wakil Ketua DPRD Bali itu menegaskan, berdasarkan fakta dan data, tembok yang dibangun GWK berdiri di atas jalan yang sudah ada sejak lama.
Bahkan jalan tersebut menjadi akses utama menuju SDN 8 Ungasan, jauh sebelum GWK berdiri.
”Kalau ada kesepakatan, ada niat tulus, sekalian geser tembok ke Timur dan Utara sehingga jalan yang sudah dirasakan secara turun temurun oleh masyarakat biar ada di luar kawasan GWK,” tegasnya.
Menurut Disel, pihak GWK sebelumnya menyatakan kesediaan membongkar pagar sejak 1 Oktober. Namun, yang dilakukan hanya sebatas di depan rumah warga.
”Ya seminggu sudah clear lah, kalau ada niatan yang baik,” jelasnya.
Disel menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Bali, Bupati Badung, DPRD Bali, serta DPRD Badung yang sudah memfasilitasi pertemuan dengan manajemen GWK.
Namun, apapun hasil pertemuan antara GWK dengan pemerintah daerah seharusnya bermuara pada satu komitmen. Yakni pembongkaran seluruh tembok yang menutup akses warga.
”Seharusnya jadi kesepakatan apa yang ditembok GWK itu seharusnya semua digeser ke Timur jalan dan Utara jalan sehingga jalan itu ada di luar kawasan GWK,” tandas politisi Gerindra tersebut. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya