Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Setiap Pagi Menguji Nyali, Siswa di Jembrana Bali Harus Seberangi Jembatan Bambu Rapuh

Muhammad Basir • Kamis, 4 Desember 2025 | 21:45 WIB

 

UJI NYALI: Seorang siswa tampak menyeberangi jembatan yang rapuh di Kelurahan Pendem, Kabupaten Jembrana, Bali.
UJI NYALI: Seorang siswa tampak menyeberangi jembatan yang rapuh di Kelurahan Pendem, Kabupaten Jembrana, Bali.

RadarBuleleng.id - Setiap pagi, sekelompok siswa berseragam sekolah tampak berjalan pelan di atas jembatan bambu yang tipis dan licin. 

Tak ada pagar pelindung yang memadai, hanya seutas tali di samping kanan-kiri jembatan yang menjadi pegangan mereka agar tidak terjatuh. 

Di bawahnya, aliran sungai tampak makin gelap oleh lumpur dan sisa banjir.

Begitulah keseharian 15 kepala keluarga di Lingkungan Pendem, Kelurahan Pendem, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. 

Selama bertahun-tahun, jembatan bambu itu menjadi satu-satunya akses tercepat untuk menuju sekolah, tempat kerja, pasar, maupun fasilitas publik lainnya.

Bagi para siswa, melewati jembatan ini bukan pilihan, melainkan kewajiban jika mereka ingin sampai tepat waktu ke sekolah. 

Kondisi semakin membahayakan saat musim hujan, ketika permukaan bambu licin dan air sungai meningkat. 

Karena ukurannya kecil, warga termasuk siswa harus bergantian menyeberang, agar jembatan tidak bergoyang terlalu keras.

Kepala Lingkungan Pendem, Nyoman Nala mengatakan, jembatan itu sebenarnya hanya solusi darurat. 

Namun karena belum ada fasilitas permanen dari pemerintah, warga terpaksa mempertahankannya meski sering rusak diterjang banjir.

“Kalau rusak atau hanyut, warga gotong royong bangun lagi pakai bambu dari pinggir sungai. Tapi ini jelas tidak aman, terutama untuk anak-anak sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, jalur alternatif memang ada, namun harus memutar melewati pemukiman padat dan jauh lebih lama. Karena itu, jembatan bambu tetap menjadi akses utama.

Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk membangun jembatan permanen, minimal yang bisa dilalui sepeda motor.

“Sudah beberapa kali kami ajukan proposal, tapi sampai sekarang belum ada jawaban. Kami hanya ingin akses yang aman, terutama untuk anak-anak,” tambah Nala.

Sementara itu Dinas PUPRPKP Jembrana akhirnya turun tangan mengecek jembatan bambu di Kelurahan Pedem setelah dikeluhkan warga.

Selama ini, tidak ada permohonan resmi dari kelurahan sehingga pemerintah daerah belum mengetahui kondisi jembatan yang ternyata menjadi jalur tercepat untuk aktivitas harian masyarakat.

Kepala Dinas PUPRPKP Jembrana, I Wayan Sudiarta, mengaku baru mengetahui keberadaan jembatan tersebut setelah isu ini mencuat di media.

“Warga mintanya ke media. Belum pernah ada permohonan ke pemerintah,” ujarnya.

Begitu menerima informasi, dinas langsung menurunkan tim ke lokasi untuk mengecek kondisi jembatan bambu itu.

Setelah survei lapangan, selanjutnya dilakukan kajian untuk menentukan apakah jembatan permanen memang dibutuhkan. “Tim sudah datang ke lokasi untuk mengecek,” katanya.

Sudiarta menambahkan, salah satu syarat pembangunan jembatan permanen adalah adanya akses jalan yang mendukung. Jika akses jalan di kedua sisi memenuhi syarat, maka pembangunan bisa dimungkinkan.

Di sisi lain, Kabid Bina Marga, Gede Sony Indrawan, memastikan timnya telah melakukan survei di jembatan bambu yang melintasi Tukad Titis.

Panjang jembatan saat ini mencapai 25 meter. Bagian timur terhubung dengan Jalan Jalak Putih, sementara bagian barat merupakan gang tanah selebar dua meter.

Hasil survei menunjukkan, jembatan permanen memang layak dibangun. Pemkab Jembrana merencanakan pembangunan jembatan gantung untuk penyeberangan pejalan kaki dan sepeda motor roda dua, dengan estimasi anggaran sekitar Rp2 miliar. 

Sementara itu, di sisi lain jembatan, seorang siswa tampak menarik napas panjang ketika akhirnya berhasil menyeberang. 

Sorot matanya terlihat lega, seolah ia baru saja menyelesaikan ujian keseimbangan hidup yang belum tentu dimenangkan setiap hari. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#pagar #pendem #bali #lumpur #sungai #pasar #jembrana #jembatan bambu #sekolah #banjir #siswa