Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Monumen Bajra Sandhi Mulai Digitalisasi Koleksi, Subak Jadi Fokus Pelestarian Budaya Bali

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 23 Desember 2025 | 21:05 WIB

 

SUBAK: Suasana pameran di Monumen Perjuangan Rakyat Bali atau Monumen Bajra Sandhi.
SUBAK: Suasana pameran di Monumen Perjuangan Rakyat Bali atau Monumen Bajra Sandhi.

RadarBuleleng.id - Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB) atau Monumen Bajra Sandhi bersiap melangkah ke era digital. 

Digitalisasi koleksi museum mulai digarap untuk memperluas akses publik sekaligus melindungi arsip sejarah yang rentan rusak dengan menghadirkan salinan digital.

Selain menjaga keberlanjutan arsip, transformasi digital ini diharapkan mampu memperkaya pengalaman pengunjung, memperkuat fungsi edukasi dan riset, serta menjaga relevansi museum di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Langkah awal digitalisasi ditandai dengan seminar bertajuk “Strategi Digitalisasi Koleksi Subak dalam Mendukung Pelestarian Budaya dan Pameran Sri Nadi” yang digelar UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Senin (22/12/2025).

Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan RI, Prof. Agus Mulyana menegaskan, digitalisasi merupakan langkah strategis untuk menjaga jejak kearifan lokal, khususnya subak sebagai warisan budaya masyarakat Bali. 

Menurutnya, subak bukan hanya sistem irigasi pertanian, melainkan ruang praktik nilai budaya, kepercayaan, dan ritual yang merefleksikan harmoni manusia dengan alam.

“Dalam praktek subak terdapat berbagai seremoni berbasis budaya dan keyakinan yang menunjukkan harmonisasi manusia dan alam. Di era modern saat ini, relasi itu mulai terganggu, bahkan memicu bencana. Karena itu, digitalisasi penting agar kearifan lokal ini terdokumentasi dan tidak hilang,” bebernya.

Prof. Agus menambahkan, status subak sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO bukan hanya simbol pengakuan dunia, tetapi juga tanggung jawab untuk terus melakukan pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan. 

Pelestarian berbasis digital diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda sekaligus pondasi modernisasi yang tetap berakar pada budaya.

“Pemerintah pusat siap mendukung melalui penguatan sarana prasarana, alokasi anggaran, hingga program revitalisasi yang direncanakan berlanjut pada 2026,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Gede Nova Widiarta menyatakan, digitalisasi museum menjadi strategi efektif untuk menarik minat generasi muda. 

MPRB saat ini tengah merancang konsep museum digital agar masyarakat tidak hanya melihat koleksi secara konvensional, tetapi juga dapat mengakses narasi dan makna sejarah secara lebih interaktif.

“Ke depan, museum tidak hanya soal melihat koleksi fisik. Digitalisasi memungkinkan pengunjung, khususnya pelajar, memahami kisah perjalanan Bali hingga masa kemerdekaan,” tegasnya.

Komitmen digitalisasi juga diwujudkan melalui Pameran Sri Nadi di Monumen Bajra Sandhi. Dalam pameran tersebut, konsep pengemong atau pengasuhan menjadi benang merah relasi manusia dengan alam.

“Keberadaan kita di atas Ibu Pertiwi bersifat sementara. Kita tidak benar-benar memiliki apa pun, melainkan merawat,” ungkap kurator pameran, Kadek Wahyudita. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Kementerian Kebudayaan #musuem #digitalisasi #irigasi #arsip #sejarah #Monumen Bajra Sandhi #unesco #pertanian #subak #riset #edukasi #Monumen Perjuangan Rakyat Bali