RadarBuleleng.id – Arus mudik Idul Fitri 2026 di Bali memicu kemacetan panjang di jalur Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk menuju Pelabuhan Gilimanuk.
Antrean kendaraan bahkan disebut-sebut sebagai “mudik horor” oleh para pemudik karena panjangnya kemacetan yang mencapai puluhan kilometer.
Kemacetan ini merupakan kemacetan terpanjang dalam sejarah mudik yang dilakukan para perantau, khususnya di Bali.
Pada Minggu (15/3/2026), antrean kendaraan yang hendak menyeberang ke Jawa dilaporkan sudah mengular hingga depan Hotel Jimbarwana di Kota Negara. Lokasi ini berjarak sekitar 31 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.
Kemacetan panjang tersebut sebenarnya sudah mulai terjadi sejak Jumat (14/3/2026) malam.
Bahkan pada Sabtu (14/3/2026) pagi, antrean kendaraan sudah mencapai wilayah Desa Melaya yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pelabuhan.
Lonjakan kendaraan terjadi karena meningkatnya mobilitas masyarakat yang hendak menyeberang dari Bali menuju Jawa menjelang arus mudik Lebaran, sekaligus karena adanya rencana penutupan operasional penyeberangan saat Hari Raya Nyepi pada 19–20 Maret 2026.
Salah seorang pemudik, Witari menuturkan, dirinya sebenarnya berencana mudik ke Jawa Barat bersama sang suami dan anak-anaknya.
Ia berangkat mudik dari rumahnya di Negara, Kabupaten Jembrana, pada Minggu (15/3/2026) pukul 09.00 WITA.
Namun pada pukul 14.44 perjalanan baru sampai di depan GOR Melaya. Itu berarti untuk menempuh jarak sejauh 16 kilometer, ia harus menghabiskan waktu 6 jam perjalanan.
“Lumayan lama tidak bergerak. Tapi tetap sabar dan semangat saja. Mudah-mudahan anak-anak tidak rewel,” katanya.
Kapolres Jembrana, Kadek Citra Dwi Suparwati mengatakan, seluruh personel telah dikerahkan untuk memberikan pelayanan maksimal kepada para pemudik.
“Kami sampaikan seluruh personel sudah dikerahkan untuk memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat. Kami juga telah melakukan diskresi dan rekayasa lalu lintas,” ujarnya.
Menurutnya, pengaturan arus kendaraan tidak hanya dilakukan oleh kepolisian di jalur darat, tetapi juga melibatkan pihak pelabuhan dalam pengelolaan operasional di area dermaga.
“Kepolisian telah melakukan rekayasa di darat, termasuk dari pihak ASDP yang sudah melaksanakan tindakan di dalam pelabuhan,” jelasnya.
Saat ini, layanan penyeberangan di lintasan Ketapang–Gilimanuk dioperasikan oleh 35 kapal yang beroperasi nonstop selama 24 jam.
Dari jumlah tersebut, 11 kapal sudah menerapkan pola operasional TBB (Tiba–Bongkar–Berangkat) untuk mempercepat siklus pelayanan kapal.
Citrawati juga mengimbau para pemudik agar mematuhi pengaturan petugas selama berada di jalur antrean menuju pelabuhan.
“Perhatikan gate yang ada. Bagi pemudik di jalan utama jangan melawan arus atau mendahului. Silakan ikuti antrean yang sudah ada agar perjalanan tetap aman dan nyaman,” tegasnya.
Sementara itu, Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale menjelaskan, lonjakan kendaraan terjadi karena tingginya antusiasme masyarakat serta kendaraan logistik yang ingin menyeberang sebelum layanan penyeberangan ditutup sementara saat Nyepi.
“ASDP menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan sebagian pengguna jasa. Peningkatan pergerakan kendaraan terjadi karena tingginya mobilitas masyarakat dan kendaraan logistik yang menyeberang dari Bali menuju Jawa menjelang penutupan layanan penyeberangan saat Hari Raya Nyepi,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, ASDP menambah tujuh kapal dari pola normal 28 kapal, sehingga total 35 kapal kini beroperasi bergantian selama 24 jam.
Selain itu, enam kapal juga menerapkan pola TBB (Tiba–Bongkar–Berangkat) agar kapal yang tiba dapat langsung menurunkan muatan dan kembali berlayar tanpa melakukan pemuatan kendaraan di pelabuhan tersebut.
Operasional lintasan penyeberangan ini juga didukung 17 dermaga aktif, terdiri dari sembilan dermaga di Pelabuhan Ketapang dan delapan dermaga di Pelabuhan Gilimanuk.
Dermaga khusus jenis LCM difokuskan untuk melayani kendaraan logistik agar arus kendaraan besar dan kendaraan penumpang dapat dipisahkan.
Berdasarkan data Posko Gilimanuk selama 24 jam pada 14 Maret 2026, tercatat 234 trip kapal melayani penyeberangan dari Bali menuju Jawa.
Jumlah penumpang mencapai 54.652 orang, meningkat 8,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebanyak 50.545 orang. Sementara kendaraan roda dua mencapai 10.733 unit atau naik 37,5 persen, dan kendaraan roda empat sebanyak 4.610 unit.
Secara keseluruhan, kendaraan yang menyeberang dari Bali menuju Jawa pada H-7 tercatat 17.832 unit, meningkat 19,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 14.978 unit.
Lonjakan arus kendaraan inilah yang memicu antrean panjang di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, hingga memunculkan istilah “mudik horor” di kalangan para pemudik. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya