SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Gubernur Bali Wayan Koster menyiapkan terobosan baru di sektor transportasi publik.
Ia berencana membuka layanan Bus Trans Metro Dewata (TMD) rute Denpasar–Singaraja setelah proyek shortcut Singaraja–Mengwi rampung.
Rencana tersebut disampaikan Koster saat memberikan sambutan pada pelepasan parade budaya serangkaian HUT ke-422 Kota Singaraja, Senin (30/3/2026) lalu.
Kebijakan tersebut menjadi arah baru, setelah sebelumnya operasional TMD sempat diwacanakan untuk dievaluasi.
Koster menjelaskan, pengembangan rute tersebut akan dilakukan setelah infrastruktur jalan shortcut selesai secara keseluruhan pada 2029. Saat ini, pembangunan masih berlanjut pada sejumlah titik strategis.
“Tahun ini dibangun titik 9 dan 10, selesai 2027. Dilanjutkan titik 11 dan 12, ditender 2027 dan mulai dikerjakan awal 2028, harus selesai 2029,” ujarnya.
Ia memaparkan, pembangunan titik 9 dan 10 menghabiskan anggaran sekitar Rp 772 miliar dari APBN, mengingat konstruksinya melibatkan jembatan dengan struktur dalam.
Sementara pembebasan lahan untuk titik 11 dan 12 akan menggunakan APBD Provinsi Bali dengan estimasi anggaran Rp 80 miliar mulai 2027.
Jika seluruh proyek shortcut tuntas, jalur Singaraja–Mengwi akan jauh lebih efisien. Waktu tempuh diperkirakan hanya sekitar 1,5 jam dengan kondisi jalan yang lebih aman dan nyaman.
“Kalau itu sudah selesai maka Singaraja-Mengwi mungkin paling lama 1,5 jam. Perjalanannya jadi aman, nyaman, indah juga,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Koster menegaskan akan menyiapkan layanan Trans Metro Dewata yang melayani rute langsung Denpasar–Singaraja.
“Kalau sudah selesai 2029, tyang berencana menyiapkan transportasi Trans Metro Dewata bolak-balik Singaraja-Denpasar. Berangkat pagi, pulang sore, jadi nggak perlu lagi kost di Denpasar. Biayanya subsidi supaya murah,” tegasnya.
Rencana ini diharapkan dapat membantu mobilitas masyarakat, khususnya pelajar dan pekerja yang selama ini harus tinggal di Denpasar.
Sebelumnya, operasional Trans Metro Dewata sempat menjadi sorotan karena dinilai belum optimal. Dengan anggaran operasional mencapai Rp 49,7 miliar dari skema sharing antara Pemprov Bali, Denpasar, Badung, dan Gianyar, tingkat keterisian penumpang masih tergolong rendah.
Koster bahkan menilai banyak armada beroperasi dalam kondisi sepi, sehingga perlu dilakukan evaluasi dan penataan ulang rute agar lebih efektif dan tepat sasaran.
Meski demikian, rencana pembukaan rute Denpasar–Singaraja ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tetap berkomitmen mengembangkan transportasi publik berbasis kebutuhan masyarakat, seiring peningkatan infrastruktur di Bali Utara. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya