RadarBuleleng.id – Puluhan truk berisi cacahan atau material kompos dilaporkan telah masuk ke kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Kabupaten Klungkung, Bali, dalam beberapa hari terakhir.
Meski aktivitas tersebut cukup masif, hingga kini belum ada pembahasan terkait kompensasi dari Pemerintah Provinsi Bali kepada Kabupaten Klungkung.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Klungkung, Dewa Komang Aswin, menilai pengelolaan sampah di Bali seharusnya dilakukan secara gotong royong tanpa mengedepankan ego kedaerahan.
“Namanya Bali, harus bersatu. Jangan terlalu ego kedaerahan. Kalau bisa Klungkung berkontribusi membantu provinsi, kan lebih bagus lagi. Prinsipnya saling bantu,” ujarnya.
Meski tidak menuntut kompensasi, Aswin berharap ada dukungan konkret dari Pemprov Bali, khususnya dalam membantu pengolahan sampah di Klungkung.
Salah satunya dengan memanfaatkan lahan penyangga PKB untuk menampung hasil olahan sampah organik dari Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center di Desa Kusamba.
Menurutnya, cacahan sampah organik yang telah diproses menggunakan bioaktivator dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penghijauan.
“Cacahan organik yang di-treatment menggunakan bioaktivator untuk mempercepat penguraian dapat digunakan untuk penghijauan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, mayoritas sampah yang diolah di TOSS Center merupakan sampah organik.
Dari total sekitar 35 ton sampah yang dihasilkan setiap hari dari kawasan perkotaan, pasar, dan desa, sekitar 60 persen di antaranya adalah sampah organik.
Namun, kapasitas TOSS Center saat ini dinilai sudah tidak lagi mampu menampung seluruh hasil olahan tersebut.
Karena itu, dibutuhkan lahan tambahan untuk menempatkan material kompos yang terus bertambah.
“Menurut saya untuk olahan sampah organik tidak terlalu masalah,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya