Satu abad setelah letusan besar 1926, Batur berhasil bangkit menjadi kawasan geopark dunia, sentra pertanian, dan destinasi wisata. Namun di balik geliat investasi, muncul tantangan baru: bagaimana menjaga ruang hidup, identitas budaya, dan kelestarian alam agar sejarah tak kembali terulang dalam wajah yang berbeda.
KABUT pagi perlahan menggantung di lereng Kaldera Batur. Dari kejauhan, siluet Gunung Batur berdiri tenang, seolah menyimpan ingatan yang tak pernah benar-benar usai. Sulit membayangkan bahwa satu abad silam, gunung yang kini menjadi tujuan wisata sekaligus sumber kehidupan itu pernah memuntahkan lahar dan mengubah arah sejarah masyarakat Batur. Pada Agustus 1926, letusan besar mengubur pusat Desa Adat Batur di kaki gunung sebelah barat daya. Rumah-rumah lenyap, ruang hidup berubah, dan masyarakat dipaksa memulai kehidupan dari awal.
Sejarah mencatat, sebelum letusan 1926, pusat Desa Adat Batur berada di kaki Gunung Batur sebelah barat daya. Letusan dahsyat mengubur kawasan itu bersama berbagai bangunan dan permukiman. Namun masyarakat tidak menyerah. Bersama pemerintah saat itu dan jejaring desa adat pengempon Pura Ulun Danu Batur, mereka menyelamatkan arca-arca, benda pusaka, Rajapurana, serta bagian-bagian bangunan suci. Selama dua tahun, benda-benda sakral tersebut diungsikan ke Desa Adat Bayunggede sebelum akhirnya pusat Desa Adat Batur dipindahkan ke lokasi sekarang pada 1928.
Jero Penyarikan Duuran Batur, I Ketut Eriadi Ariana, mengingatkan bahwa relokasi tersebut bukan sekadar perpindahan permukiman, melainkan perpindahan sebuah peradaban Bali Kuno yang telah hidup jauh sebelum letusan terjadi. Kini, kawasan di kaki barat daya Gunung Batur yang dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat pum telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi. "Seratus tahun lalu kami berada di kaki barat daya Gunung Batur. Batur adalah sebuah peradaban Bali Kuno dengan jejak berbagai prasasti," ujarnya, Rabu (22/7).
Ia menjelaskan, keberadaan Pura Ulun Danu Batur di lokasi sekarang merupakan konsekuensi langsung dari bencana alam yang memaksa masyarakat mencari tempat baru yang lebih aman. "Kenapa pura di atas? Karena tergeser oleh bencana alam. Tanpa bakti kepada Dewi Danu serta solidaritas antar desa adat, peradaban kami sudah berhenti 100 tahun lalu," katanya.
Kisah penyelamatan itu menjadi fondasi bagi lahirnya kembali kehidupan masyarakat Batur dan sekitarnya. Pertanian kembali tumbuh di tanah vulkanik yang subur, peternakan berkembang, dan kawasan Danau Batur menjadi sumber penghidupan baru. Dari bencana, lahir sebuah peradaban yang belajar hidup berdampingan dengan alam.
Salah satu saksi perjalanan sejarah tersebut adalah Desa Awan, sebuah desa di wilayah pegunungan Kintamani, Kabupaten Bangli. Menurut Kepala Desa Awan, I Ketut Dhana Bratha, semangat masyarakat membangun kembali kehidupan pasca-Rarud masih dapat dirasakan hingga kini. Meski demikian, ia menilai perkembangan infrastruktur dan usaha pariwisata yang sangat pesat mulai memberi tekanan terhadap wajah asli kawasan Batur sebagai wilayah agraris.
"Semangat itu masih tercermin dengan baik walaupun tergerus oleh laju pembangunan sarana dan prasarana pariwisata yang sangat pesat. Karena itu diperlukan komitmen pemerintah melalui regulasi yang tepat, disertai pemetaan potensi wilayah yang sesuai dengan karakter alam, budaya, dan dinamika sosial masyarakat," ujarnya.
Bagi Dhana Bratha, masa depan Batur tidak cukup hanya bertumpu pada investasi wisata. Ia mengusulkan agar kawasan sempadan Danau Batur dan wilayah penyangga geopark memperoleh perhatian khusus melalui pengembangan pertanian organik, dukungan pembiayaan, dan edukasi bagi petani. Gagasan itu, menurutnya, bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mengembalikan identitas kawasan yang selama puluhan tahun bertumpu pada pertanian sekaligus membantu mengatasi persoalan ekologis seperti ledakan populasi lalat yang mengganggu kesehatan masyarakat dan kenyamanan wisatawan.
Dhana Bratha menilai keseimbangan hanya dapat dicapai apabila pemerintah, desa adat, tokoh agama, dan masyarakat duduk bersama mengevaluasi arah pembangunan. Menurutnya, lahan pertanian yang masih tersisa perlu dilindungi melalui kebijakan yang jelas, sementara investasi pariwisata harus ditata agar tumbuh selaras dengan daya dukung lingkungan dan warisan budaya kawasan.
Di sisi lain, pertumbuhan glamping dan berbagai bentuk akomodasi wisata menjadi tanda bahwa Batur sedang berubah. Perubahan itu membawa peluang ekonomi, tetapi juga memunculkan pertanyaan: ruang mana yang harus dipertahankan agar sejarah seratus tahun perjuangan masyarakat tidak kehilangan makna?
Jawaban atas pertanyaan itu coba dihadirkan melalui rangkaian Peringatan 100 Tahun Rarud Batur. Petajuh Desa Adat Batur sekaligus Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Rarud Batur, I Made Santika atau akrab disapa Guru Nengah, mengatakan puncak peringatan diwujudkan melalui penyelenggaraan Batur Village Festival selama tujuh hari, tepatnya 2-8 Agustus nanti.
Festival tersebut mengusung tema Batur Matangi, yang dimaknai sebagai kesadaran akan kebangkitan masyarakat Batur setelah melewati satu abad perjalanan pasca-relokasi. Menurut Guru Nengah, Batur Village Festival tidak hanya menjadi ruang pertunjukan budaya, spiritual, dan pariwisata, tetapi juga wahana edukasi untuk memperkuat narasi sejarah relokasi Desa Adat Batur akibat letusan.
"Batur Village Festival merupakan bagian dari agenda puncak Peringatan 100 Tahun Rarud Batur. Tema Batur Matangi mengandung makna kebangkitan, sekaligus mengajak masyarakat memahami kembali perjalanan relokasi Batur sebagai bagian penting dari sejarah dan identitas kami," ujarnya.
Seratus tahun setelah Rarud Batur, masyarakat memang tidak lagi menghadapi lahar panas yang memaksa mereka meninggalkan kampung halaman. Namun mereka menghadapi tantangan baru yang tak kalah penting: menjaga ruang hidup agar tidak perlahan hilang oleh pembangunan yang melupakan akar sejarahnya. (ara)
Batur Berebut Ruang
HAMPARAN kebun bawang, kopi arabika, dan sayur-mayur yang selama puluhan tahun menjadi identitas Kintamani perlahan berbagi ruang dengan deretan glamping yang menawarkan panorama kaldera. Pemandangan ini menjadi potret perubahan wajah Batur, dari kawasan agraris menuju destinasi wisata yang semakin padat investasi.
Di balik geliat pembangunan tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah pariwisata benar-benar tumbuh berdampingan dengan pertanian, atau justru perlahan menggeser akar kehidupan masyarakat Batur?
Peristiwa Rarud Batur memberikan dua pesan penting yakni tentang kebertahanan dan keberlanjutan. Hingga saat ini warga masih mempertahankan warisan nilai masa lalu di Batur, namun juga mesti memastikan keberlanjutan di tengah berbagai tantangan yang terjadi. Tantangan tersebut semakin nyata ketika kawasan Batur berubah menjadi ruang yang terbuka bagi arus investasi.
Bagi Dr. I Made Sarjana, akademisi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana sekaligus lulusan Wageningen University & Research (WUR), Belanda, persoalan terbesar bukan sekadar bertambahnya glamping, melainkan absennya arah pembangunan yang jelas.
”Batur saat ini seperti benteng terbuka yang membuka ruang bagi mereka-mereka yang berinvestasi. Akibatnya investasi yang nyaris tak terkendali, akhirnya lambat laun wajah Batur semakin berubah," katanya, Senin (20/7).
Perubahan itu, lanjut Sarjana, terjadi karena pembangunan pariwisata selama ini lebih banyak dikendalikan oleh kekuatan modal dibandingkan perencanaan kawasan. Ia menilai belum ada masterplan yang mengatur secara proporsional pemanfaatan ruang di kawasan Batur.
”Di Kawasan Batur tidak ada perencanaan pembangunan pariwisata yang mempertimbangkan berbagai aspek secara proporsional, misalnya berapa jumlah kamar atau akomodasi homestay dan glamping. Modal jadi pengatur pemanfaatan lahan. Siapa punya modal bisa membangun akomodasi. Tidak pernah ada masterplan, di sini boleh membangun apa atau tidak. Semua ini menunjukkan pembangunan hanya dilandasi pertimbangan ekonomi," tegasnya.
Dari sudut pandang agribisnis, ia tidak menampik bahwa investasi glamping menawarkan keuntungan ekonomi yang lebih cepat dibandingkan sektor pertanian. Namun, kondisi tersebut justru membuat fungsi pertanian sebagai identitas kawasan semakin terpinggirkan. ”Kalau ngomongin glamping jelas lebih menguntungkan daripada pertanian. Artinya glamping telah menggeser potensi pertanian di kawasan itu," katanya.
Karena itu, Sarjana berharap pembangunan akomodasi wisata tidak terus berlangsung tanpa kendali. Menurutnya, kawasan Batur membutuhkan kajian yang mampu menghitung daya dukung lingkungan sekaligus kebutuhan riil akomodasi wisata.
“Saya berharap pembangunan akomodasi pariwisata di kawasan itu mempertimbangkan keseimbangan lingkungan, sehingga dibutuhkan kajian berapa kebutuhan kamar atau akomodasi pariwisata," ujarnya.
Lebih jauh, Sarjana menilai label agrowisata yang selama ini melekat pada Kintamani belum sepenuhnya diwujudkan dalam bentuk produk wisata yang nyata. Wisatawan, menurutnya, seharusnya tidak hanya datang menikmati panorama, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dari aktivitas pertanian masyarakat.
“Saya pikir tidak ada daya tarik agrowisata di kawasan itu karena tidak ada benar-benar kawasan yang menjual paket agrowisata, seperti menanam bawang atau aktivitas pertanian lainnya. Artinya wisatawan membayar untuk mendapatkan pengalaman aktivitas pertanian," jelasnya.
Ia mencontohkan, Batur Tengah pernah memiliki agrowisata bambu dan kopi arabika yang menjadi daya tarik wisata berbasis pertanian. Namun, kedua destinasi tersebut kini tidak lagi aktif.
“Dulu ada agrowisata bambu dan kopi arabika di Batur Tengah. Membangun pariwisata itu tidak bicara cangkang tanpa isi, tetapi produk yang nyata ada di lapangan. Kelemahan pembangunan pariwisata di Indonesia, termasuk Bangli, banyak tempat punya predikat desa wisata atau agrowisata tetapi tidak ada produk,” sebutnya.
“Lihat saja dari 30-an desa wisata di Bangli, berapa yang aktif menerima tamu dan masyarakat lokal mendapat manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dari predikat itu. Sekarang agrowisata bambu dan kopi itu tak aktif lagi. Ini istilah apalagi agro-edu-heritage, kemasannya bagaimana mengisi ini jadi nyata," lanjutnya.
Pandangan menarik lainnya disampaikan Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini. Menurutnya, keberadaan pertanian di Batur bukan sesuatu yang terbentuk secara instan. Lahan yang kini tampak subur justru lahir dari proses panjang pemulihan pasca letusan Gunung Batur.
Ia menjelaskan, setelah aliran lahar menutup kawasan pertanian, kondisi tanah mengalami kerusakan fisik, kimia, maupun biologi. Material pasir, batu, dan kerikil menimbun lapisan tanah atas sehingga lahan kehilangan kemampuan menyimpan air. Keasaman tanah turun hingga pH sekitar 4–5, kandungan hara sangat rendah, sementara mikroorganisme tanah hampir musnah.
”Dulu tanahnya bisa dikatakan seperti zona mati. Digali sampai sekitar 50 sentimeter pun hampir tidak ditemukan cacing tanah. Akibatnya petani mengalami gagal panen beberapa musim, air hujan tidak mampu meresap, dan banyak lahan akhirnya ditinggalkan," jelasnya, Rabu (22/7).
Menurut Kartini, kebangkitan pertanian Batur terjadi karena masyarakat secara bertahap "membangun tanah baru". Batu-batu hasil lahar disingkirkan melalui gotong royong, kemudian lahan diperkaya bahan organik dalam jumlah besar melalui pupuk kandang, disertai penanaman tanaman perintis seperti kaliandra, gamal, dan lamtoro untuk memperbaiki struktur tanah.
Di sisi lain, rekayasa biologis juga menjadi faktor penting. Petani mengembangkan budidaya cacing tanah, memanfaatkan mikroorganisme lokal (MOL), pupuk organik cair, hingga tanaman penutup tanah seperti orok-orok untuk mengembalikan kehidupan di dalam tanah.
”Hari ini lapisan pasir lahar memang masih terlihat, tetapi di bawahnya sudah terbentuk lapisan tanah baru yang gembur dan kaya bahan organik. Kembalinya cacing tanah menjadi indikator paling jujur bahwa tanah itu sudah sehat kembali," ujarnya.
Karakter tanah vulkanik Batur, lanjut Kartini, memiliki keunikan tersendiri. Kandungan mineral primer seperti silika, magnesium, kalsium, besi, hingga aluminium sebenarnya sangat melimpah sehingga menyimpan cadangan unsur hara jangka panjang. Tekstur tanah yang didominasi pasir juga memberikan drainase sangat baik sehingga tanaman hortikultura relatif terhindar dari pembusukan akar.
Namun kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan karena tanah berpasir memiliki kapasitas menahan air dan unsur hara yang rendah. Selain itu, pH tanah yang cenderung asam menyebabkan fosfor sulit diserap tanaman apabila tidak diimbangi pengapuran dan penambahan bahan organik.
”Tanah vulkanik Batur sebenarnya subur, tetapi kesuburannya harus dibangun. Kuncinya adalah bahan organik. Tanpa bahan organik, air dan pupuk mudah hanyut sehingga tanah kehilangan kehidupannya," katanya.
Karakter inilah yang kemudian membuat komoditas seperti bawang merah, cabai, jeruk, dan kopi arabika berkembang baik di kawasan Batur. Sistem bedengan dan mulsa yang diterapkan petani juga membantu menjaga kelembapan sekaligus mengurangi erosi.
Meski demikian, Kartini mengingatkan bahwa ancaman terbesar saat ini bukan lagi letusan gunung, melainkan alih fungsi lahan, berkurangnya tenaga kerja pertanian, pencemaran limbah, hingga persaingan pemanfaatan air antara pertanian dan sektor pariwisata.
Ia menyebut semakin banyak lahan produktif berubah menjadi vila, glamping, restoran, maupun area parkir. Pada saat yang sama, generasi muda lebih tertarik bekerja di sektor jasa pariwisata dibandingkan menjadi petani.
Menurutnya, pembangunan pariwisata justru harus menjadikan pertanian sebagai daya tarik utama, bukan menggantikannya. ”Pertanian jangan menjadi korban pariwisata, tetapi harus menjadi bagian dari pariwisata itu sendiri," tegasnya.
Kartini menawarkan sejumlah strategi agar kedua sektor dapat tumbuh bersama. Di antaranya memperkuat perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B), memberikan insentif kepada petani yang mempertahankan lahannya, mengembangkan paket agrowisata berbasis aktivitas pertanian, memperluas digitalisasi pemasaran hasil pertanian oleh generasi muda, hingga membangun sistem pengolahan limbah hotel agar tidak mencemari sumber air.
Ia juga mendorong pengembangan sistem pertanian organik terpadu SaBiCaITaLA, yakni integrasi sapi, biogas, cacing tanah, ikan, tanaman, lebah, dan agrowisata. Menurutnya, sistem tersebut tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru dari wisata edukasi.
”Kalau pertanian menjadi pengalaman wisata, maka petani tidak hanya memperoleh pendapatan dari hasil panen, tetapi juga dari jasa edukasi, wisata, dan produk organik. Itu masa depan Batur," ujarnya.
“Batur itu bukti bahwa tanah tidak pernah salah. Yang salah cara kita memperlakukannya. Lahar itu azab kalau kita diam. Tapi jadi rahmat kalau kita olah pakai cacing, mikroba dan sabar,” pesannya.
Bagi Sarjana maupun Kartini, masa depan Batur tidak cukup ditentukan oleh derasnya investasi yang masuk. Kawasan ini membutuhkan perencanaan yang mampu menjaga keseimbangan antara pertanian, lingkungan, dan pariwisata. Tanpa itu, identitas Batur sebagai kawasan agraris yang dibangun dari proses panjang pemulihan pascaerupsi dikhawatirkan akan semakin memudar, tergantikan pembangunan yang hanya mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek. (ara)
Kekuatan Modal Dinilai Mulai Ubah Wajah Peradaban Batur
TRANSFORMASI Desa Batur, Kecamatan Kintamani, dari kawasan yang terdampak erupsi Gunung Batur menjadi destinasi pariwisata sekaligus sentra pertanian hortikultura dinilai sebagai contoh keberhasilan pemulihan ekonomi berbasis potensi lokal. Namun, di tengah pesatnya investasi sektor pariwisata, keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan perlindungan lahan pertanian dinilai harus tetap menjadi perhatian utama.
Pengamat ekonomi sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas Denpasar, Prof. Dr. I.B. Raka Suardana, mengatakan keberhasilan Batur tidak hanya terlihat dari meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan identitas kawasan melalui nilai-nilai budaya dan filosofi lokal.
“Transformasi Desa Batur merupakan contoh nyata keberhasilan pemulihan ekonomi berbasis potensi lokal. Pascaerupsi Gunung Batur, masyarakat tidak hanya mampu bangkit, tetapi juga menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata unggulan sekaligus sentra pertanian hortikultura," ujarnya, Selasa (21/7)
Menurutnya, pengakuan kawasan Batur sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark turut memperkuat daya tarik wisata sekaligus meningkatkan investasi di kawasan tersebut. Kondisi itu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Dari perspektif ekonomi, pertumbuhan tersebut memperluas aktivitas usaha masyarakat. Sementara dari perspektif agama dan budaya, penerapan filosofi Tri Hita Karana menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Model pembangunan seperti itu layak menjadi contoh bagi kawasan lain yang menghadapi bencana alam," katanya.
Perkembangan sektor pariwisata, lanjut Raka Suardana, telah menciptakan berbagai peluang ekonomi baru. Kehadiran homestay, restoran, kafe, transportasi wisata, jasa pemandu, penyewaan jeep, hingga perdagangan hasil pertanian memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat Desa Batur.
“Munculnya usaha homestay, restoran, kafe, transportasi wisata, pemandu wisata, penyewaan jeep, serta penjualan hasil pertanian meningkatkan pendapatan rumah tangga dan membuka lapangan kerja baru, terutama bagi generasi muda," jelasnya.
Selain menciptakan lapangan kerja, sektor pariwisata juga menghasilkan efek berganda terhadap sektor pertanian. Permintaan terhadap komoditas lokal seperti sayuran, kopi Arabika Kintamani, jeruk, serta berbagai produk UMKM meningkat seiring bertambahnya kunjungan wisatawan.
“Efek berganda juga dirasakan petani karena meningkatnya permintaan sayuran, kopi Arabika Kintamani, jeruk, dan produk UMKM untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Struktur ekonomi yang sebelumnya didominasi pertanian kini berkembang menjadi kombinasi sektor pertanian dan jasa," ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pertumbuhan investasi tidak berlangsung tanpa kendali. Menurutnya, pengembangan sektor pariwisata harus tetap mempertimbangkan keberadaan lahan pertanian produktif dan kelestarian budaya masyarakat setempat. “Pengembangan pariwisata harus tetap dikendalikan agar tidak mengurangi luas lahan pertanian produktif maupun mengikis nilai-nilai budaya lokal," tegasnya.
Raka Suardana menilai strategi pembangunan ekonomi yang tepat bagi kawasan Batur adalah mengintegrasikan sektor pertanian dan pariwisata melalui konsep agrowisata berbasis masyarakat (community-based tourism). Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati panorama Gunung dan Danau Batur, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam aktivitas pertanian.
“Wisatawan tidak hanya menikmati panorama Gunung dan Danau Batur, tetapi juga memperoleh pengalaman memetik jeruk, memanen sayuran, mengenal kopi Arabika Kintamani berindikasi geografis, hingga menikmati kuliner lokal," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah juga perlu memperkuat infrastruktur kawasan, memperluas digitalisasi promosi, meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKM, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Selain itu, perlindungan terhadap lahan pertanian produktif harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari arah pembangunan kawasan Batur. “Dengan berlandaskan filosofi Tri Hita Karana, sinergi pertanian dan pariwisata akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, serta tetap melestarikan lingkungan dan budaya Bali," pungkasnya.
Seratus tahun setelah Rarud Batur mengubah bentang alam dan kehidupan masyarakatnya, tantangan yang dihadapi kawasan ini tidak lagi datang dari letusan gunung. Ancaman itu justru hadir melalui derasnya arus pembangunan yang berisiko menggeser ruang hidup, pertanian, dan identitas budaya. Jika Rarud pertama meninggalkan pelajaran tentang ketangguhan masyarakat untuk bangkit, maka satu abad kemudian, sejarah kembali mengajukan pertanyaan: mampukah Batur bertahan dari "rarud" yang lahir dari tangan manusia sendiri? (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng