Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Lama Dinanti, Jembatan Sepang Akhirnya Tuntas. Warga Tak Lagi Mengitari Desa Tetangga

Admin • Selasa, 24 Juni 2025 | 00:34 WIB

 

AKHIRNYA TUNTAS: Jembatan yang membentang di atas Tukad Lukaha, Busungbiu. Jembatan ini sangat dinanti warga.
AKHIRNYA TUNTAS: Jembatan yang membentang di atas Tukad Lukaha, Busungbiu. Jembatan ini sangat dinanti warga.

BUSUNGBIU, RadarBuleleng.id - Suatu pagi di bulan Februari 2025, Ni Komang Ayu Astiti tergesa-gesa mengantar anaknya ke sekolah. Tapi langkahnya terhenti seketika di ujung Jembatan Tukad Lukaha. 

Lubang besar menganga di tengah jembatan, memutus jalur utama yang selama ini menjadi nadi kehidupan warga Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali.

“Pagi-pagi anak saya harus sekolah, tapi karena jembatan putus, kami terpaksa memutar lewat jalur lain. Jalurnya sempit, licin, dan menanjak,” keluhnya. 

Matahari belum tinggi, tapi rasa cemas menghantui. Dia harus melintas melalui jalur lain di kawasan Belulang. Jalur ini sempit, banyak genangan air, licin saat hujan. Membuat para pengendara - utamanya para ibu - rawan mengalami kecelakaan.

Sebenarnya ada alternatif lain dengan kualitas jalan lebih baik. Namun harus mengitari tiga desa lain. Yakni Desa Pucaksari, Dadap Putih, dan Sepang Kelod. Mengitari tiga desa itu saja menambah waktu nyaris selama 40 menit.

Jembatan Tukad Tukad Lukaha adalah urat nadi penghubung masyarakat di Desa Sepang. Dari sanalah kendaraan roda dua dan empat biasa melintas. Menyuplai barang-barang pokok kepada warga. Mengirim hasil tani dan kopi ke kota. 

Namun sejak lubang besar muncul di tengah jembatan pada 21 Februari 2025, semuanya berubah. Akses warga terhenti, jalur ekonomi tersendat.

Warga yang tinggal di sisi timur sungai paling terdampak. Sebagian besar aktivitas desa berada di sisi barat sungai. Baik itu kawasan jual beli hingga kantor desa. Warga hanya punya dua pilihan. Melalui jalur Belulang yang licin nan bahaya, atau mengitari desa tetangga yang memakan waktu lama dan menambah ongkos bensin.

Warga pun sempat membuat jembatan darurat secara swadaya. Jembatan itu dibangun menggunakan bambu. Warga yang tinggal di sisi timur jalan akhirnya memanfaatkan jembatan itu untuk menyeberangi sungai. 

Apabila hendak ke kantor desa, biasanya warga akan memarkir kendaraan di dekat jembatan, lalu berjalan kaki menyeberangi sungai. Opsi itu dianggap lebih aman dan murah. Ketimbang nekat melalui jalanan licin atau memutar jauh.

I Komang Agus Saputra, seorang pengusaha kopi lokal, turut merasakan dampaknya. “Dulu lewat jembatan bisa dua jam sampai ke kota. Sekarang harus lewat Dadap Putih, bisa tiga jam lebih. Bensin jadi lebih boros, tenaga dan waktu juga habis di jalan,” ujarnya.

Motor masih bisa lewat jalur alternatif yang memutar melewati Belulang. Namun kendaraan roda empat, terutama truk pengangkut, harus mengambil rute lebih jauh via Pucaksari menuju Dadap Putih. Jalannya curam dan tak selalu bersahabat.

Warga Sepang seperti hidup terisolasi, meski tak benar-benar terputus dari dunia luar. Tapi setiap perjalanan menjadi perjuangan baru. Anak-anak kerap terlambat datang ke sekolah, apalagi saat hujan turun. Pengusaha terlilit ongkos operasional, ibu-ibu kesulitan menjangkau pasar. Semua berdoa agar jembatan itu segera diperbaiki.

Doa itu akhirnya terjawab. Setelah hampir tiga bulan lumpuh, perbaikan jembatan rampung pada 30 Mei 2025. Jembatan akhirnya bisa kembali dilewati sejak Minggu (1/6/2025). Seperti aliran air yang lama tersendat, aktivitas warga kembali mengalir lancar. Tak ada lagi jalur memutar, tak ada lagi detak jantung yang berpacu tiap kali melewati jalanan curam nan licin.

Kini, Jembatan Tukad Lukaha kembali menjadi simpul kehidupan Desa Sepang. Namun pengalaman pahit selama kerusakan menjadi pengingat bahwa infrastruktur menjadi kebutuhan masyarakat. Sekalipun bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan. (Penulis: I Putu Agus Yasa)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #busungbiu #air #kopi #bensin #sepang #jembatan #kantor desa #bambu #sekolah #Tukad #buleleng #ekonomi