RadarBuleleng.id - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Bali, NTB, dan NTT melaporkan bahwa devisa ekspor Bali pada Juni 2024 mencapai 4,1 juta dolar AS, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023 yang hanya mencapai 3,4 juta dolar AS.
"Itu merupakan hasil dari seluruh ekspor, termasuk dari UMKM, dengan produk perikanan mendominasi," kata Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Bali, NTB, dan NTT, Susila Brata, saat diskusi mengenai peningkatan kinerja ekspor UMKM di Denpasar, Selasa (16/7/2024).
Sebagaimana diberitakan ANTARA, devisa ekspor pada tahun 2023 tercatat sebesar 4,8 juta dolar AS, naik dari 3,4 juta dolar AS pada tahun 2022.
Baca Juga: Bea Cukai Denpasar Gagalkan Peredaran Rokok Ilegal, Negara Rugi Setengah Miliar Lebih
Kenaikan devisa ekspor ini dipengaruhi oleh berbagai fasilitas fiskal dari Kementerian Keuangan, termasuk Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) yang ditujukan bagi pelaku usaha, termasuk industri kecil menengah (IKM).
Fasilitas KITE memungkinkan pelaku usaha mengurangi biaya karena bahan baku impor yang diolah kembali menjadi produk ekspor tidak dikenakan bea masuk serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 149 tahun 2022.
Di Bali, 17 pelaku usaha menerima fasilitas ini, termasuk yang bergerak di sektor kerajinan perak, perhiasan, dan pakaian jadi.
Produk ekspor Bali sebagian besar terdiri dari produk perikanan, seperti ikan tangkap dan ikan hidup.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, nilai ekspor dari Januari hingga Mei 2024 mencapai 277 juta dolar AS, meningkat hampir 17 persen dibandingkan tahun 2022.
Per Mei 2024, komoditas perikanan mendominasi ekspor dengan nilai 13,7 juta dolar AS atau 23,31 persen dari total ekspor, diikuti oleh logam mulia dan perhiasan dengan nilai 11,4 juta dolar AS atau 19,39 persen.
Baca Juga: Bea Cukai Sita Ribuan Botol Minuman Beralkohol Jenis Arak Bali
Meskipun mencatatkan surplus ekspor, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih belum optimal, hanya mencapai 15,8 persen pada tahun 2023, menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Nilai ekspor Indonesia selama periode Januari-Desember 2023 mencapai 258,82 miliar dolar AS.
"Ini menunjukkan masih banyak peluang bagi sektor UMKM untuk meningkatkan ekspornya," tambahnya.
Untuk memperluas pasar ekspor dan domestik, sinergi dilakukan dengan pemberdayaan yang mencakup aspek pembiayaan bersama perbankan, fasilitas fiskal berupa kepabeanan dan pajak, pemasaran, hingga pelatihan UMKM yang melibatkan berbagai instansi di Kementerian Keuangan, swasta, dan instansi pemerintah lainnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya