Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Harga Jual Rendah, Petani Rumput Laut Makin Sedikit

Marsellus Pampur • Selasa, 17 September 2024 | 21:23 WIB

 

BERTAHAN: Petani rumput laut di Desa Lembongan bertahan melakukan budidaya meski harganya murah.
BERTAHAN: Petani rumput laut di Desa Lembongan bertahan melakukan budidaya meski harganya murah.

RadarBuleleng.id - Budidaya rumput laut di Bali kini makin ditinggalkan. Petani memilih pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Apalagi harga rumput laut makin turun.

Seperti di Desa Lembongan, Klungkung, yang notabene salah satu pusat budidaya rumput laut di Bali.

Luas tanam rumput laut di desa tersebut juga terjun bebas. Diperkirakan hanya tersisa sepuluh persen saja.

Salah seorang yang masih bertahan adalah Pande Nyoman Rajin. Rajin menyebut, saat ini luas tanam budidaya rumput laut di Lembongan hanya 38,4 hektare. Padahal tadinya mencapai 308 hektare.

”Kemungkinan sekali karena kondisi alam dan ada pengerukan di jembatan, akhirnya kering. Kalau kering dominan tidak tumbuh dia (rumput laut),” kata Rajin.

Baca Juga: Tanam Padi Metode Hazton di Lahan Seluas 40 Are, Petani di Buleleng Hasilkan 10 Ton

Menurut Rajin, jumlah petani rumput laut juga semakin sedikit. Generasi muda juga enggan menanam rumput laut.

Penyebab utamanya, harga jual rumput laut sangat murah. Para pemuda menganggap hasilnya tak bisa menopang kebutuhan mereka. 

”Anak-anak muda meninggalkannya dan mencari pekerjaan lain," imbuhnya.

Pande mengaku dirinya tak punya pilihan lain. Dia akhirnya memilih tetap melakukan budidaya rumput laut di usia senja, meski hasilnya tak seberapa. 

”Saya sudah tua, mau kerja apa lagi? Terpaksa saya terus kerja jadi petani rumput laut," ujarnya.

Sementara itu, petani lainnya yakni Made Soka mengaku tetap bertahan karena tak punya pilihan pekerjaan lain.

Mau tidak mau dia harus bertahan, meski harga jual rumput laut makin murah. Karena itu satu-satunya kemampuan yang ia miliki.

” Biasanya Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilo untuk yang kering. Sekarang turun sampai setengahnya. Bisa bertahan hidup saja syukur,” katanya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Lembongan #bali #rumput laut #petani #klungkung