RadarBuleleng.id - Kerajinan kayu style Bali hingga kini masih diminati masyarakat. Pesanan pun terus mengalir.
Seperti yang terlihat di desa Batannyuh, Kecamatan Marga, Tabanan. Desa itu dikenal sebagai sentra industri perajin ukiran kayu style Bali.
Di desa tersebut, aktivitas mengukir kayu bukan hanya monopoli kaum pria. Para perempuan juga bekerja sebagai tukang ukiran kayu.
Salah satu usaha ukiran kayu yang kini masih eksis adalah Wiwin’s Ukir milik Made Wirawa. Usaha tersebut berdiri 15 tahun lalu dan masih eksis hingga kini.
Setiap hari mereka melayani penjualan ukiran kayu untuk keperluan bale gedong, bale daja, pelinggih, pintu gebyog style Bali, maupun ukiran lain sesuai pemesanan..
Wirawa menuturkan, dia sudah menggeluti ukir kayu sejak SD. Dia belajar otodidak dari keluarga.
“Pulang sekolah saya sempatkan waktu meburuh. Sampai berhasil membuka usaha industri kerajinan kayu secara mandiri," ungkap Wirawa.
Ia menyebut peminat ukir kayu sangat banyak. Utamanya untuk bangunan rumah dan pelinggih. Bahkan para perajin sampai kewalahan menerima pesanan.
"Sampai kewalahan terima pesanan. Bukan hanya saja. Sami (semua) perajin ukiran kayu di desa sini (Batannyuh) mengalami hal sama," ujarnya.
Pesanan melimpah, membuat para perajin kewalahan memenuhinya. Ditambah lagi, mereka dengan tenaga kerja.
Menurut Wirama, semakin sulit mencari tenaga yang bisa mengukir. Bahkan di Desa Batannyuh sendiri, para pemuda mulai enggan mengukir, karena lebih memilih sektor Pariwisata.
"Semua pengusaha ukir kayu di Desa Batannyuh kesulitan mencari tenaga kerja. Susah sekali mencari orang di desa yang bisa seni ukir kayu," tuturnya.
Lebih lanjut dijelaskan, harga kerajinan ukir kayu yang ia garap sangat bervariasi. Berkisar antara Rp 30 juta hingga Rp 75 juta.
Untuk bale sekapat yang terdiri atas empat tiang, dijual seharga Rp 30 juta. Ukurannya mencapai 1,5x2 meter.
Sementara untuk bale sekenam berukuran 5x4,25 meter dengan enam tiang, dilego seharga Rp 75 juta.
Khusus untuk kayu dan pelinggih dijual dengan harga variatif. Tergantung dengan jenis ukiran dan tingkat kerumitan.
Ia menyebut usaha ukiran kayu cukup menjanjikan. Lantaran dalam sebulan dia bisa mengantongi laba bersih hingga Rp 20 juta.
"Itu sudah bersih saya dapat sudah dipotong biaya bahan, tenaga kerja dan lainnya. Sekarang ini saya memiliki 20 tenaga kerja itu pun masih kurang," demikian Wirama. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya