RadarBuleleng.id – Panen raya padi di Kabupaten Jembrana, Bali, diwarnai masalah serius. Hingga akhir April 2025, sekitar 50 hingga 60 persen lahan pertanian padi di kabupaten ini belum dipanen.
Akibatnya, banyak padi yang rusak karena rontok dengan sendirinya. Bahkan sebagian terpaksa dijadikan pakan ternak.
Pantauan di lapangan, khususnya di Kecamatan Mendoyo, terlihat hamparan sawah yang menguning dibiarkan tanpa dipanen.
Tak sedikit bulir padi rontok dan mulai tumbuh menjadi bibit baru. Sebagian tanaman bahkan diberikan kepada warga untuk pakan ternak karena sudah tidak layak dijual.
Kondisi ini membuat banyak petani terpaksa menjual padinya kepada tengkulak dengan harga murah. Mereka tidak punya pilihan lain karena biaya operasional harus segera ditutupi.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma, membenarkan persoalan tersebut.
Ia menyebutkan bahwa dari total luas tanam 2.058 hektare, lebih dari separuhnya masih belum dipanen.
“Petani masih kesulitan mendapatkan tenaga panen, sehingga banyak lahan terbengkalai," ungkapnya.
Sebagai solusi jangka pendek, pihaknya mendorong petani untuk mengaktifkan kembali seka tanam — kelompok petani yang biasanya membantu dalam proses tanam, namun bisa difungsikan untuk membantu panen.
"Sementara ini, seka tanam masih lebih aktif dibanding seka manyi (kelompok tenaga panen) yang banyak sudah tidak aktif," tambahnya.
Untuk jangka panjang, Dinas Pertanian mengusulkan agar setiap subak menghidupkan kembali seka manyi agar ke depan petani tidak lagi kesulitan tenaga panen.
Selain memastikan kelancaran panen, biaya juga lebih hemat karena dikerjakan secara gotong royong. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya