SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Dengan ketekunan dan tangan terampil, seorang pemuda asal Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, sukses mengangkat alat musik tradisional Bali ke pasar internasional.
Dia adalah I Gede Edi Budiana, atau yang akrab disapa Edibud. Pemuda ini berhasil menciptakan gamelan rindik berbahan dasar bambu dengan kualitas tinggi, hingga menembus pasar ekspor.
Rindik yang diproduksinya dirakit secara manual dengan ketelitian tinggi. Namun, berbeda dari cara konvensional yang mengandalkan feeling atau insting pendengaran semata, Edibud kini memanfaatkan aplikasi digital untuk menyempurnakan nada pada setiap bilah bambu.
Inovasi ini memungkinkan hasil suara lebih presisi sesuai tangga nada slendro yang ia konversi ke nada diatonis, memudahkan penyetelan secara akurat.
Baca Juga: Kakao Bali Berhasil Tembus Pasar Ekspor. Kewalahan Penuhi Permintaan Konsumen
Sejak kecil, Edibud sudah menyukai alunan gamelan yang sering ia dengar dari radio maupun saat upacara keagamaan.
Ketertarikannya semakin kuat saat merantau ke Gianyar untuk menempuh pendidikan di jurusan komputer.
Di sana, ia banyak belajar dari para seniman senior, hingga akhirnya mulai membuat rindik pertamanya dari bambu bekas penjor.
Tak disangka, rindik buatan pertamanya itu langsung diminati dan laku seharga Rp 300 ribu pada 2016.
Lulus kuliah pada 2018, Edibud pulang ke kampung halaman dan mendirikan dE Percussion, sebuah studio produksi dan workshop gamelan berbasis bambu di Desa Jinengdalem.
Ia tak hanya membuat rindik, tapi juga memproduksi alat musik tradisional lainnya seperti tingklik, angklung bambu, suling, kulkul (tektekan), hingga kincir angin bernada.
Bahan bambu yang digunakan pun bukan sembarangan. Ia memilih bambu Tabah yang tumbuh di perbukitan Bali Utara dan bambu Hitam yang didatangkan dari Jawa.
Proses pengolahan dilakukan dengan merendam bambu selama dua bulan dalam cairan insektisida dan EM4 untuk menghilangkan kadar gula alami. “Jadi bambunya lebih tahan rayap dan cuaca,” ungkapnya.
Dalam proses produksi, ia hanya menggunakan alat sederhana seperti pisau blakas, pengutik, gerinda, dan bor listrik.
Untuk penyetelan nada, ia mengandalkan aplikasi Tuner di ponsel pintarnya. Semua ini dilakukan untuk menjaga kualitas suara sekaligus mempertahankan nilai estetika dari setiap alat musik yang dibuat.
Edibud memasarkan produknya melalui media sosial, terutama Instagram dan TikTok dengan nama akun @dE_Percussion.
Berkat promosi digital tersebut, ia mulai menerima pesanan dari luar negeri seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat (New York), dan Singapura.
Tak hanya itu, pasar lokal dari Karangasem, Tabanan, Klungkung, Badung, hingga Denpasar juga turut memesan produk buatannya.
Untuk harga, rindik dijual mulai Rp 1 juta hingga Rp 8 juta, tergantung ukuran, ukiran, dan tingkat kerumitan. Ia juga menerima pesanan khusus sesuai permintaan pelanggan.
Dalam proses produksi, Edibud turut melibatkan warga sekitar untuk membantu membuat pelawah dan ukiran, sekaligus memberdayakan potensi lokal.
Kini, pesanan terus berdatangan. Ia pun tengah menyiapkan stok tambahan mengingat waktu produksi yang tidak sebentar untuk menjaga kualitas.
Edibud berharap semakin banyak generasi muda tertarik menekuni seni gamelan Bali seperti rindik, agar warisan budaya ini tetap lestari.
Menurutnya, sebenarnya banyak anak muda yang menyukai gamelan, hanya saja faktor ekonomi sering kali membuat mereka memilih merantau dan meninggalkan potensi budaya lokal. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya