Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kemarau Basah Ganggu Produksi Jagung di Bali, Petani Terancam Merugi

Juliadi Radar Bali • Rabu, 23 Juli 2025 | 14:03 WIB
TERANCAM RUGI: Petani jagung di Tabanan, Bali menunjukkan pertumbuhan tanamannya yang tidak maksimal.
TERANCAM RUGI: Petani jagung di Tabanan, Bali menunjukkan pertumbuhan tanamannya yang tidak maksimal.

RadarBuleleng.id – Musim kemarau tahun ini tak seperti biasanya. Alih-alih kering dan panas, curah hujan justru masih tinggi hingga bulan Juli. 

Kondisi kemarau basah ini berdampak serius pada sektor pertanian, terutama tanaman jagung di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur. 

Apalagi desa tersebut selama ini dikenal sebagai sentra palawija di Kabupaten Tabanan, Bali.

Kepala Desa Gadungan, I Wayan Muliartana, menyebut curah hujan yang terus turun di tengah musim kemarau telah menyebabkan genangan air di lahan-lahan jagung warga. 

Akibatnya, pertumbuhan tanaman melambat bahkan sebagian besar mati sebelum sempat dipanen.

“Banyak tanaman jagung gagal tumbuh. Bahkan ada petani yang dua kali gagal tanam. Kalau dibiarkan seperti ini, kerugian bisa makin besar,” ujar Muliartana.

Baca Juga: Buleleng Salurkan 47 Ton Benih Padi dan Jagung, Dorong Kemandirian Pangan 

Ia menjelaskan, tanaman jagung yang ditanam sejak Mei lalu tak mampu berkembang karena tanah yang terlalu lembap. 

Produksi jagung pun anjlok hingga 30–40 persen dibanding musim sebelumnya. Padahal, pada kondisi normal, petani mampu menghasilkan 6–7 ton jagung kering per hektare.

“Tahun ini hasil panen jauh di bawah tahun 2024. Banyak petani mengeluh karena rugi modal dan tenaga,” tambahnya.

Melihat kondisi yang tidak menguntungkan, sebagian besar petani di tiga subak di Desa Gadungan, yakni Subak Delod Desa, Subak Bantas Bale Agung Dajan Desa, dan Subak Pupuan 2 memilih beralih ke tanaman padi. Luas areal tanam padi di desa tersebut diperkirakan mencapai 125 hektare.

“Banyak petani memutuskan mengolah ulang lahan dan mengganti jagung dengan padi. Setidaknya lebih cocok dengan kondisi tanah yang basah,” jelas Muliartana.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Tabanan, Nyoman Sadiaya, membenarkan bahwa kemarau basah mengacaukan siklus tanam palawija. Para petani yang biasanya mulai tanam jagung pada April-Mei, tahun ini justru menundanya.

“Di beberapa tempat, seperti Subak Aseman, para petani sempat tanam jagung pada April. Tapi karena hujan deras terus turun, pertumbuhan jagung terganggu dan lahannya tergenang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, banyak petani akhirnya menunda tanam jagung hingga kondisi membaik. Namun sejauh ini, pihaknya belum menghitung secara pasti berapa penurunan produksi yang terjadi.

“Kami masih mengumpulkan data di lapangan. Tapi yang jelas, musim kemarau basah ini berdampak signifikan terhadap produktivitas jagung di Selemadeg Timur dan wilayah lain di Tabanan,” pungkasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #palawija #padi #kemarau basah #kemarau #pertanian #jagung #subak #hujan #lahan #Lembap #tanaman