SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Di sebuah bangunan sederhana yang terletak di jantung Desa Jinengdalem, Kabupaten Buleleng, hentakan suara alat tenun terdengar silih berganti. Suara hentakan itu bermakna satu hal, ada dapur yang harus terus mengepul.
Hentakan itu sudah menjadi keseharian bagi warga di Desa Jinengdalem, terutama kaum hawa. Suara itu bukan sekadar rutinitas. Tapi wujud ketekunan produk tekstil yang telah diwariskan turun-temurun.
Desa Jinengdalem dikenal sebagai salah satu desa penghasil tenun songket terbaik di Bali. Kain songket Jinengdalem telah menjadi koleksi para pesohor di negeri ini. Termasuk mantan ibu negara, Iriana Joko Widodo.
Ketika mesin semakin modern, produk tekstil pabrikan makin merajalela, produk tenun tangan dari Desa Jinengdalem tetap bicara. Salah seorang yang masih konsisten menenun adalah Luh Sukastri, 47.
Sejak remaja, Luh Sukastri sudah akrab benang. Hari demi hari dia tetap setia menjaga keterampilan warisan orang tua, yakni menenun songket. Kini setiap hari, setelah segala urusan rumah tangga usai, ia akan duduk di hadapan alat tenun.
“Walaupun prosesnya lama dan melelahkan, saya bangga bisa terus menenun. Selain itu, hasilnya juga bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar Sukastri seraya menenun sehelai kain.
Menenun kain songket bukan perkara mudah. Untuk selembar kain songket dengan panjang sekitar dua meter, bisa memakan waktu hingga dua minggu. Tergantung pada tingkat kerumitan motif.
Prosesnya dimulai dari memintal benang sutra, mewarnai benang, menjemur benang, menggulung benang, hingga menenun. Semua dilakukan dengan tangan.
Meski terlihat rumit, namun hal itu merupakan cerminan dari kualitas. “Kalau dikerjakan dari nol, kita tahu betul benangnya, kualitas warnanya, dan hasil akhirnya. Saya ingin orang yang memakai songket saya bisa merasakannya,” ujarnya.
Hasil tenunan Luh Sukastri dijual mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta per lembar. Tergantung jenis bahan dan kompleksitas motif. Pembelinya datang dari berbagai kalangan. Wisatawan domestik dan mancanegara, pegiat budaya, hingga pengurus adat yang memesan untuk keperluan upacara.
Selain songket, Luh Sukastri juga menekuni pembuatan kain jumputan. Pewarnaan kain ini menggunakan teknik tie-dye atau ikat celup. Untuk memberikan kesan unik nan otentik, ia akan memberikan sentuhan motif sulaman songket. Inovasi ini membuka ruang baru bagi para kolektor kain tradisional.
Bagi Sukastri, menenun bukan sekadar soal ekonomi. Hal tersebut adalah bentuk pelestarian terhadap warisan leluhur. Tak heran Luh Sukastri juga rutin mengajar para remaja perempuan di desanya agar mereka bersedia menenun.
“Saya ajak anak-anak muda menenun, minimal tahu caranya. Supaya mereka tidak hanya bangga pakai kain Bali, tapi juga tahu bagaimana susahnya membuatnya,” katanya.
Namun mencari pewaris tenun bukan perkara mudah. Generasi muda kini kerap menganggap menenun pekerjaan yang melelahkan dengan hasil yang pas-pasan. Gemerlap pariwisata lebih menyilaukan mata, sehingga banyak yang berlabuh ke sektor tersebut. Ketimbang tinggal di desa melestarikan budaya tenun.
Pemerintah desa pun menyadari hal tersebut. Pelatihan dan bantuan alat tenun diberikan untuk mendukung kelompok penenun. Harapannya, tenun songket Jinengdalem tetap lestari.
Sukastri membuktikan bahwa melestarikan keterampilan menenun bisa sumber penghasilan yang menjanjikan. Setidaknya untuk menopang ekonomi keluarga. Menenun bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga jalan untuk menjaga jati diri dan menganyam harapan masa depan. (Penulis: Luh Putu Kharista Sandhi)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya