SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng memastikan tidak akan menerima penyertaan modal dari Pemkab Buleleng pada 2026.
Padahal, tahun depan perusahaan daerah ini harus mengeksekusi sejumlah proyek fisik yang sifatnya mendesak.
Kondisi itu membuat Perumda harus membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta agar program tetap berjalan.
Ada empat proyek pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang dijadwalkan berlangsung pada 2026.
Masing-masing yaitu SPAM Bendungan Tamblang/Danu Kerthi, SPAM Bendungan Titab-Ularan, SPAM Ambengan, dan SPAM Pegadungan.
Seluruh proyek ini dinilai krusial untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Buleleng timur, tengah, dan barat.
“Sesuai arahan Kuasa Pemilik Modal (KPM), dalam hal ini Bupati Buleleng, pembangunan infrastruktur didorong melalui kerja sama Business-to-Business (B2B) dengan pihak swasta,” kata Dirut Perumda Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, Selasa (2/12/2025).
Baca Juga: Genjot Pendapatan Asli Daerah, Dinas Pariwisata Buleleng Incar Retribusi di Objek Wisata
Lestariana menjelaskan, SPAM Tamblang/Danu Kerthi memiliki potensi air baku hingga 500 liter per detik untuk melayani sekitar 50 ribu pelanggan di wilayah Buleleng tengah dan timur.
Sementara itu, SPAM Titab-Ularan berkapasitas 300 liter per detik, namun baru termanfaatkan 65 liter per detik.
Dengan pengembangan transmisi dan distribusi, pemanfaatannya ditargetkan meningkat menjadi 200 liter per detik, guna memenuhi kebutuhan 25 ribu pelanggan di Buleleng barat.
Untuk SPAM Pegadungan, potensi air 200 liter per detik diproyeksikan melayani sekitar 20 ribu pelanggan.
Proyek ini membutuhkan anggaran sekitar Rp 20 miliar dan ditujukan untuk masyarakat Banyuning, Penarukan, dan Kerobokan.
Adapun SPAM Ambengan memiliki potensi 120 liter per detik, dengan anggaran kebutuhan sekitar Rp 5 miliar untuk melayani Sukasada, Sambangan, hingga Panji.
“Pengembangan SPAM Ambengan dan Pegadungan sifatnya mendesak karena pertumbuhan kawasan perumahan di wilayah tersebut sangat cepat. Kebutuhan layanan air bersih otomatis ikut meningkat,” ujarnya.
Lestariana menyebut, penyertaan modal terakhir dari Pemkab Buleleng diterima sebelum 2020 dengan rata-rata Rp 4,5 miliar per tahun.
Tanpa dukungan modal baru, Perumda harus mencari skema pembiayaan lain melalui kerja sama swasta atau pinjaman ke Bank BPD Bali.
Rencananya, dua proyek paling mendesak yakni SPAM Pegadungan dan SPAM Ambengan akan ditawarkan kepada investor melalui skema B2B atau dibiayai lewat fasilitas kredit. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya