SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Gejolak perang di Timur Tengah mulai terasa hingga ke lapak pedagang kecil di Buleleng, termasuk ke pedagang gorengan.
Kenaikan harga berbagai bahan baku membuat pelaku usaha mikro semakin terhimpit, sementara mereka tak berani menaikkan harga jual karena takut kehilangan pelanggan.
Kondisi ini dirasakan Han, pedagang gorengan di Jalan Ahmad Yani, Singaraja. Ia mengaku dalam dua pekan terakhir harga kantong plastik melonjak drastis, bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat.
Ia menyebut satu pak tas kresek sebelumnya bisa ia beli seharga Rp 2 ribu. Namun kini harganya naik menjadi Rp 5 ribu per pak, alias naik 150 persen.
“Ada yang lebih murah, harganya Rp 4 ribu, tapi kualitasnya tipis,” ujarnya.
Tak hanya plastik, harga kertas minyak juga ikut merangkak naik. Dari sebelumnya Rp 23 ribu per pak, kini menjadi Rp 28 ribu per pak.
"Itu juga naik sejak dua minggu belakangan," imbuhnya.
Kenaikan harga juga terjadi pada bahan utama seperti minyak goreng. Bagi pedagang gorengan, komoditas ini menjadi penentu utama biaya produksi.
Hal serupa disampaikan Arza, pedagang gorengan lainnya. Ia mengungkapkan harga minyak goreng terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
"Terakhir saya beli Rp 228 ribu per dus isi 2 liter, sekarang sudah Rp 250 ribu sampai Rp 260 ribu. Itu pun yang paling murah," katanya.
Tak hanya mahal, ketersediaan minyak goreng juga kerap langka di pasaran. Bahkan di toko grosir besar, stok sering kali kosong.
"Jangankan di pasar, di toko grosir besar saja sering kosong. Jadi begitu ada barang, walaupun mahal tetap saya beli," keluhnya.
Meski biaya produksi terus naik, para pedagang memilih bertahan tanpa menaikkan harga jual. Mereka khawatir pelanggan akan beralih jika harga ikut naik.
"Khawatir pelanggan kabur. Walaupun untung tipis yang penting bisa tetap jalan," tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya