Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Predator: Badlands Diputar di Bioskop Indonesia, Film Sci-Fi Terseru Akhir 2025

Dianisa Damayanti • Kamis, 6 November 2025 | 21:00 WIB
Ilustrasi poster resmi film Predator: Badlands. Tayang di bioskop Indonesia mulai 5 November 2025.
Ilustrasi poster resmi film Predator: Badlands. Tayang di bioskop Indonesia mulai 5 November 2025.

RadarBuleleng.id - Akhir tahun 2025 akan menjadi momen yang ditunggu para pecinta film aksi dan fiksi ilmiah.

Predator: Badlands, karya terbaru sutradara Dan Trachtenberg, mengguncang bioskop Indonesia sejak Rabu (5/11/2025).

Film tersebut dinilai sebagai kisah paling berani dalam waralaba Predator Universe, karena untuk pertama kalinya, sang predator tampil sebagai tokoh utama.

Dalam seri ini, penonton dibawa ke sebuah planet asing bernama Badlands, wilayah gurun ekstrem yang dipenuhi bahaya dan makhluk ganas.

Di tempat inilah seorang predator muda bernama Dek harus bertahan hidup. Ia diasingkan dari klan Yautja dan berjuang membuktikan dirinya sebagai pemburu sejati.

Dalam perjalanannya, Dek bertemu Thia, seorang manusia sekaligus ilmuwan yang terdampar di planet yang sama.

Pertemuan keduanya membuka kisah penuh aksi dan refleksi. Dua makhluk dari dunia berbeda harus bekerja sama untuk menghadapi predator lain dan kerasnya lingkungan sekitar.

Dari situ, film ini memperlihatkan sisi emosional yang jarang muncul dalam film bertema alien dan perburuan.

Film berdurasi dua jam ini menghadirkan pemandangan luar biasa melalui teknologi IMAX dan RealD 3D.

Gurun berpasir merah, badai debu, hingga siluet planet asing divisualisasikan dengan detail yang menakjubkan.

Suara dentuman, efek senjata, dan atmosfer sunyi planet asing membuat penonton seakan ikut terperangkap di tengah perburuan.

Sinematografi yang kuat menjadi kekuatan utama Predator: Badlands. Trachtenberg memadukan unsur aksi intens dengan nuansa eksistensial yang jarang ditemui dalam film sejenis.

Film ini tidak hanya memacu adrenalin, tetapi juga mengajak penonton merenung tentang makna kehormatan, keberanian, dan kemanusiaan—bahkan ketika tokoh utamanya bukan manusia.

Berbeda dari film Predator sebelumnya, kali fokus cerita bukan pada manusia yang melawan makhluk luar angkasa, melainkan pada predator itu sendiri.

Dari sudut pandang Dek, penonton diajak memahami perjuangan, kode etik, dan nilai-nilai hidup klan Yautja.

Perubahan sudut pandang ini memberi nafas baru bagi waralaba yang telah berusia puluhan tahun.

Hubungan antara Dek dan Thia menjadi jembatan antara dua dunia: ras pemburu dan manusia.

Dari interaksi mereka, tersirat pesan bahwa bahkan di tengah kekerasan dan pertarungan untuk bertahan hidup, ada nilai kemanusiaan yang universal. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#waralaba #film #planet #manusia #Badlands #ilmuwan #predator #fiksi ilmiah #aksi