Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kampus Didorong Bangun Ekosistem Sehat untuk Cegah Ulah Pati Mahasiswa

Eka Prasetya • Kamis, 16 Oktober 2025 | 23:01 WIB

 

ilustrasi ulah pati
ilustrasi ulah pati

RadarBuleleng.id - Tragedi meninggalnya mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana berinisial TAS, 22, kembali menggugah perhatian banyak pihak. 

Ia dilaporkan meninggal dunia setelah jatuh dari lantai dua gedung perkuliahan. Di tengah duka mendalam, para praktisi kesehatan mental menekankan pentingnya membangun ekosistem kampus yang peduli, terbuka, dan tanggap terhadap tanda bahaya masalah psikologis.

Menurut pemerhati psikologi, Angelo Basario Marhaenis, pencegahan ulah pati tidak bisa hanya mengandalkan tenaga profesional. 

Pencegahan harus dimulai dari jejaring aman di sekitar mahasiswa, seperti teman sebaya, dosen wali, dan layanan konseling.

“Gerakan literasi tanda bahaya harus diperkuat di kampus. Kita perlu menormalisasi bercerita, bertanya, dan mendengar. Perubahan pola tidur, menarik diri, atau ungkapan putus asa harus segera direspons dengan rujukan yang jelas sebelum krisis terjadi,” ujarnya.

Angelo juga mendorong agar pendekatan restoratif diterapkan dalam kasus perundungan di lingkungan akademik. 

Bentuknya bisa berupa sanksi edukatif dan pengabdian sosial selama beberapa bulan agar empati serta kesehatan komunitas tetap terjaga.

Dukungan serupa disampaikan Renaldo Fajar Nugraha Susilo, mahasiswa Magister Bisnis Digital pada Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali. 

Ia menyebut generasi muda sebagai garda depan dalam upaya pencegahan ulah pati.

“Berani menanyakan kabar teman secara tulus dan membantu mereka mencari bantuan bukan kelemahan, tapi keberanian. Kita bisa menjadi penjaga awal (gatekeeper) yang mengarahkan teman ke psikolog atau konselor saat dibutuhkan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan praktik pemberitaan aman, yang tidak mengeksploitasi peristiwa tragis dan justru mendorong masyarakat mencari bantuan profesional.

Pendekatan ilmiah juga mulai diterapkan di sejumlah universitas. Mahasiswa Psikologi Udayana, Katherine Hana Manurung, menjelaskan konsep Self-Help Plus (SH+), program manajemen stres berbasis WHO yang dapat dilakukan oleh tenaga non-spesialis dengan supervisi profesional.

Model tersebut memungkinkan mahasiswa mendapatkan dukungan awal dan pencegahan dini, terutama di kampus yang memiliki keterbatasan jumlah psikolog.

Dari sisi medis, mahasiswa Magister Biomedis pada UPN “Veteran” Jakarta, dr. Angela Virgini Tiomegarani, menyebut ulah pati sebagai fenomena “gunung es”. Hal itu tampak kecil di permukaan, namun jauh lebih besar di lapangan.

“Kesadaran diri dan kepedulian terhadap sekitar sangat penting. Narasi dari diam harus diubah menjadi peduli,” ujarnya.

Masyarakat dapat mengakses layanan Healing119/SEJIWA dari Kementerian Kesehatan secara gratis 24 jam melalui 119 ekstensi 8 atau situs healing119.id untuk chat dan panggilan. Untuk kondisi darurat yang mengancam nyawa, segera hubungi 112 atau datangi IGD terdekat. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kampus #meninggal dunia #mahasiswa #who #ulah pati #Perkuliahan #psikolog #kesehatan mental #psikologi #konselor #universitas udayana #FISIP