SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Suasana sakral prosesi melasti Desa Adat Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, mendadak berubah duka.
Seorang krama dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti rangkaian upacara pada Rabu (1/4/2026) sore.
Korban diketahui bernama Ketut Budiarta, warga yang dikenal aktif ngayah dalam berbagai kegiatan adat.
Kejadian tersebut mengejutkan krama setempat, mengingat peristiwa serupa disebut baru pertama kali terjadi dalam prosesi keagamaan di desa tersebut.
Berdasarkan informasi, proses melasti Desa Adat Bulian berlangsung sejak pagi sekitar pukul 08.00 WITA. Krama berjalan dengan iring-iringan sarad pelinggih menuju segara di wilayah Desa Adat Kubutambahan.
Sepupu korban, Komang Widi Pradnyana Putra, menuturkan bahwa sejak awal prosesi berjalan lancar. Sarad linggih diusung secara bergantian oleh krama hingga tiba di segara.
Namun, insiden terjadi saat rombongan dalam perjalanan kembali ke Bulian sekitar pukul 14.00 WITA. Saat itu, korban turut mengusung sarad bersama krama Pura Dadia Arya Kebon Tubuh Desa Adat Bulian.
Menurut Komang Widi, posisi korban berada di bagian belakang sarad. Tak lama berjalan sekitar 400 meter, korban mulai mengeluhkan kondisi yang tidak biasa.
“Kepada saya, Bli Tut (almarhum) ngaku seperti ada yang ngedeng (menarik). Katanya rasanya berat dan tidak enak,” ungkapnya.
Setelah itu, posisi korban segera digantikan oleh krama lain. Namun, kondisi korban justru semakin memburuk. Tubuhnya mendadak lemas dan terjatuh di tengah keramaian iring-iringan.
“Saat itu saya coba bangunkan, tapi tubuhnya sudah lemas. Keluar busa dari mulut. Perkiraan saya mungkin karena kelelahan,” lanjutnya.
Melihat kondisi tersebut, krama dadia segera meminta bantuan pecalang Desa Adat Bulian. Korban kemudian dievakuasi menggunakan sepeda motor menuju RSUD Giri Emas.
Korban dibonceng diapit dua pecalang untuk mempercepat penanganan medis. Namun, setibanya di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia.
Kepergian korban meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan krama desa. Komang Widi mengaku masih tidak percaya atas kejadian tersebut.
“Jujur masih syok, antara percaya dan tidak, seperti mimpi,” ucapnya singkat.
Sementara itu, Klian Dadia Arya Kubon Tubuh, Nyoman Cawiada, menyampaikan bahwa jenazah almarhum saat ini disemayamkan di rumah duka di Banjar Dinas Banyu Buah, Desa Bulian.
Pihak keluarga juga tengah melaksanakan rangkaian upacara ngulapin, baik di lokasi kejadian maupun di RSUD Giri Emas.
“Rencananya almarhum akan dimakamkan di setra adat Bulian pada 10 April 2026,” jelasnya.
Almarhum Ketut Budiarta diketahui berprofesi sebagai petani. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak perempuan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya