Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Imlek 2026, Penjualan Kue Keranjang dan Teratai di Denpasar Bali Lesu

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 17 Februari 2026 | 09:30 WIB

 

LESU: Pedagang kue Imlek di Denpasar menyebut penjualan tahun ini lesu.
LESU: Pedagang kue Imlek di Denpasar menyebut penjualan tahun ini lesu.

RadarBuleleng.id - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang jatuh pada Selasa (17/2/2026), penjualan kue keranjang dan kue teratai di Denpasar justru melemah. 

Padahal, tahun ini memasuki Tahun Kuda Api yang dimaknai penuh semangat dan energi baru.

Salah satu perajin kue khas Imlek di Jalan Nangka Selatan, Denpasar, Bali, Ni Wayan Raba, mengakui terjadi penurunan permintaan dibandingkan tahun sebelumnya. Ditemui pada H-1 Imlek, suasana tempat produksinya terlihat lebih lengang dari biasanya.

“Biasanya saya kewalahan melayani pesanan. Tahun ini terasa jauh lebih sepi,” ujarnya saat ditemui, Senin (16/2/2026).

Raba menduga kondisi ekonomi yang belum stabil memengaruhi daya beli masyarakat. Meski harga bahan baku mengalami kenaikan dan ia menghabiskan sekitar 40 kilogram bahan untuk produksi tahun ini, Raba memilih tidak menaikkan harga jual.

"Harga masih sama dari tahun ke tahun. Memang bahan baku naik, tapi melihat kondisi ekonomi sekarang, saya memilih tetap mempertahankan harga lama,” terangnya.

Meski ruang produksi masih dipenuhi pesanan, Raba merasakan perbedaan signifikan dibandingkan momen Imlek tahun-tahun sebelumnya. Ia bahkan berharap ada lonjakan pesanan di detik-detik terakhir.

"Tahun lalu puncaknya memang di H-1, tapi tahun ini sampai sekarang belum ada telepon masuk lagi untuk pesanan tambahan,” keluhnya.

Tahun ini, Raba memproduksi kue dalam berbagai bentuk simbolis seperti kura-kura, teratai, dan ikan. 

Bagi warga Tionghoa, bentuk tersebut sarat makna. Kura-kura melambangkan panjang umur dan keselamatan, sedangkan ikan dipercaya membawa keberuntungan atau hoki.

Untuk varian rasa, Raba membatasi pilihan demi efisiensi. Ia hanya memproduksi tiga rasa utama, yakni tausa (kacang hitam), kacang hijau, dan pandan. Biasanya ia membuat hingga lima varian, termasuk durian dan kacang tanah.

"Saya hanya membuat tiga varian sekarang. Tausa (kacang hitam), kacang hijau, dan pandan. Biasanya saya buat lima macam termasuk durian dan kacang tanah, tapi karena kondisi sekarang (sepi), rasanya terlalu ribet kalau terlalu banyak pilihan,” jelasnya.

Kue-kue tersebut umumnya digunakan sebagai sarana persembahyangan sebelum dikonsumsi. 

Raba menawarkan dua jenis, yakni kue kosong dan kue berisi. Untuk kue teratai kosong dibanderol Rp 25.000, sedangkan yang berisi dijual Rp 45.000.

"Kue ini disembahyangkan dulu. Kalau yang sudah ada isinya bisa langsung dimakan, tapi kalau yang kosong biasanya diolah lagi, misalnya digoreng,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #teratai #kue keranjang #kue #daya beli #bahan baku #denpasar #pesanan #imlek #harga #ekonomi