Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Seniman Bali Angkat Kisah Subak di Bali Lewat Pameran Lukisan

Antara • Jumat, 5 Juli 2024 | 01:09 WIB

 

Seniman Putu Winata saat melihat karya seri lukisannya yang bercerita tentang Subak, sebuah sistem irigasi pertanian khas Bali. Pameran itu digelar di Kedai Kebun Forum Yogyakarta.
Seniman Putu Winata saat melihat karya seri lukisannya yang bercerita tentang Subak, sebuah sistem irigasi pertanian khas Bali. Pameran itu digelar di Kedai Kebun Forum Yogyakarta.

RadarBuleleng.id - Seniman asal Bali, Putu Winata, mengadakan pameran tunggal yang menampilkan seri lukisan terbaru tentang Subak, sistem irigasi khas Bali. 

Pameran tersebut berlangsung di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, mulai Rabu (3/7/2024) hingga Rabu (10/7/2024).

"Saya ingin menggambarkan kondisi umum Subak di Bali, sebuah sistem irigasi yang telah ada selama beratus-ratus tahun," ujar Putu Winata saat pembukaan pameran di Yogyakarta, sebagaimana diberitakan ANTARA.

Dalam pameran bertajuk "Tutur Jatiluwih", Putu Winata memamerkan 12 karya seni yang menggambarkan Subak. 

Sebelumnya, seri lukisan Subak ini juga telah dipamerkan pada ajang Art Jakarta Gardens (April), Focus Art Fair New York (Mei), dan D Gallerie, Jakarta (Juni) pada tahun 2024.

Baca Juga: Kementerian BUMN Gelar Pameran di Bali. Kenalkan Potensi Rempah di Nusantara

Menurut Putu Winata, lukisan-lukisan Subak ini dihasilkan berdasarkan riset di Jatiluwih, sebuah kawasan persawahan subak terkenal di Bali. 

Jatiluwih merupakan bagian dari Lanskap Subak Catur Angga Batukaru, yang diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

"Subak adalah sistem irigasi yang dikelola petani untuk mengairi sawah dan lahan pertanian. Komponen subak meliputi teras-teras sawah, sistem saluran air, desa, pura, dan hutan yang menjaga pasokan air," jelasnya.

Subak juga merupakan perkumpulan petani yang mengelola irigasi sawah. Sudah ada di Bali selama hampir 1.000 tahun, subak mencerminkan kearifan lokal Bali dalam menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.

Baca Juga: PCNU Buleleng Gelar Pameran Arsip Jadul. Ada Arsip dari Tahun 1954

"Saya ingin mengangkat tema air dan Subak sebagai sumber inspirasi saya saat ini dan beberapa tahun ke depan. Di Yogyakarta ini, saya fokus pada Jatiluwih, daerah di Bali yang memiliki Subak terbesar," tambahnya.

Melalui seri lukisan Subak, Putu Winata mengeksplorasi warisan budaya kuno untuk menemukan nilai-nilai yang relevan dengan situasi modern. 

Karya-karyanya mengangkat kearifan lokal menjadi pesan universal tentang pentingnya menjaga alam dan nilai spiritual.

"Saya mengambil inspirasi dari kekayaan lokal untuk menciptakan karya yang dapat menginspirasi dunia global menuju kehidupan yang lebih harmonis dengan alam," ungkapnya.

Director NR Management, Novita Riatno, yang menjadi mitra manajerial pameran ini, menjelaskan bahwa "Tutur Jatiluwih" menggambarkan fenomena alam dan lanskap dengan pendekatan yang mengabaikan aturan realisme dan perspektif, memungkinkan alam untuk tumbuh dan meluas di luar kanvas.

"Lukisan-lukisannya lebih dari sekadar potret lanskap; mereka adalah representasi dinamis dari kehidupan dengan segala kemungkinan. Karya-karyanya mengekspresikan keindahan dan keagungan alam dengan cara yang unik dan otentik," ujar Novita.

Menurut Novita, Putu Winata dikenal karena karyanya dalam seni lukis yang menggambarkan keindahan alam dan budaya Bali, serta hubungannya yang erat dengan alam. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #Jatiluwih #seniman #subak #pameran #pameran lukisan