SUKASADA, RadarBuleleng.id - Wanita asal Buleleng, Ni Luh Puspa, mendapat kepercayaan sebagai wakil menteri dalam kabinet Prabowo Subianto.
Penunjukkan presenter Kompas TV itu sebagai wakil menteri, tentu saja menjadi kejutan. Saat Prabowo memanggil para calon menteri dan calon wakil menteri pada Rabu (16/10/2024), Ni Luh Puspa tidak ikut dipanggil.
Sebaliknya, pada siang harinya, Ni Luh Puspa sedang sibuk membawakan acara siaran langsung Kompas TV.
Namun pada Kamis (17/10/2024), dia tampak datang ke Hambalang untuk mengikuti pembekalan para calon wakil menteri.
Ni Luh lahir dari keluarga sederhana di Desa Selat. Tepatnya lagi di Banjar Dinas Bululada, Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Desa Selat merupakan salah satu desa yang terletak di punggung perbukitan Bali Utara.
Dia lahir di desa tersebut pada November 1986 silam. Ketika usianya menginjak tiga bulan, orang tuanya mengajak Ni Luh merantau ke Mamuju, Sulawesi Barat.
Saat itu orang tuanya mengikuti program menanam karet di PT. Perkebunan Nusantara. Setelah berjalan beberapa tahun, ternyata program itu gagal. Saat itu, kehidupan keluarganya berada di titik nadir.
Tidak mau anaknya terlantar, sang ayah, Ketut Sulastra alias Jro Sutana kemudian mengajak Ni Luh kecil pulang ke Bali. Saat itu usianya baru menginjak 6 tahun.
Sejak saat itu, Ni Luh diasuh oleh kakeknya Ketut Sawitra (almarhum) dan neneknya, Komang Ratning. Mereka tinggal di pelosok Desa Selat.
Tidak ada akses jalan ke sana. Pun tidak ada jaringan listrik. Termasuk jaringan air bersih.
“Waktu Ni Luh kecil, di sini tidak ada listrik dan air. Jalan juga tidak ada. Listrik itu baru masuk tahun 2012, jalan itu baru ada tahun 2013,” ungkap Jro Sulastra saat ditemui di rumahnya pada Jumat (18/10/2024).
Kakek neneknya kemudian menyekolahkan Ni Luh di SD Negeri 5 Selat. Sekolah itu cukup jauh jaraknya. Untuk bersekolah, Ni Luh harus menyeberangi sejumlah pangkungan alias sungai mati, serta mendaki sebuah bukit.
Beranjak SMP, orang tuanya kembali mengajak Ni Luh ke Makassar. Saat itu kondisi orang tuanya mulai membaik. Jro Sulastra diangkat sebagai PNS di Makassar, Sulawesi Selatan. Ni Luh kemudian menempuh pendidikan di SMPN 2 Malili, Sulawesi Selatan.
Saat SMA dia kembali ke Buleleng dan menempuh pendidikan di SMA Saraswati. Lalu melanjutkan kuliah di STIE Nobel Makassar.
Selepas kuliah, dia mendapat pekerjaan di iNews Makassar. Ni Luh kemudian bergabung dengan Kompas TV Makassar.
“Waktu ada seleksi di pusat, Ni Luh ikut. Dia akhirnya kerja di Jakarta,” ujarnya.
Sementara Ni Luh di Jakarta, sang orang tua memutuskan pulang kampung ke Bali pada 2008. Ayahnya membangun rumah sederhana di atas tanah warisan.
Rumah itu cukup sederhana. Hanya berupa bangunan satu lantai dengan tiga buah kamar. Ni Luh punya kamar sendiri di sana.
“Di kamar anak saya ada komputer, ada printer. Kalau dia bekerja ya di sana. Kami tidak mengganggu,” ungkap pria yang juga kader Purnawirawan Pejuang Indonesia raya (PPIR) itu.
Baca Juga: Prabowo Tunjuk Wanita asal Desa Selat, Buleleng, Jadi Wakil Menteri
Setiap hari raya Galungan, Ni Luh selalu menyempatkan diri pulang kampung ke Desa Selat. Dia selalu bersembahyang, meski hanya menginap di rumah semalam saja.
Bertahun-tahun merantau, Ni Luh kemudian menikah pada Desember 2023 dengan Amran Ari, seorang pria asal Pinrang, Sulawesi Selatan. Ni Luh kemudian mendirikan rumah sendiri, di sebelah rumah orang tuanya.
Jro Sutana pun mengaku kaget bila anaknya ditunjuk sebagai wakil menteri. Sebab, sepengetahuan dirinya, Gerindra Bali mengusulkan nama Ida Bagus Mantra sebagai calon menteri.
“Saya terkejut luar biasa. Sampai nggak enak makan. Kami ini orang kecil, orang desa,” katanya.
Ia menduga, anaknya mendapat kepercayaan karena Presiden terpilih, Prabowo Subianto melihat potensi dari Ni Luh Puspa. Utamanya dalam mengurus pariwisata.
“Anak saya ini orang Bali asli. Lahir di Bali. Mungkin Pak Prabowo ingin menunjuk orang Bali, Hindu, yang bisa memahami Bali,” katanya.
Sutana berharap putrinya bisa bertugas sebaik mungkin sebagai wakil menteri, sehingga membawa dampak positif bagi Bali, khususnya bagi Desa Selat.
“Mungkin orang luar menganggap desa kami ini desa yang miskin harta, miskin ilmu pendidikan. Dengan ditunjuknya Ni Luh sebagai wakil menteri di pusat, setidaknya bisa mengangkat harkat desa ini. Bahwa Selat ini bukan desa gagal,” harap Jro Sutana. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya