RadarBuleleng.id - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara tegas menolak rencana keikutsertaan atlet senam Israel dalam ajang Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 (World Artistic Gymnastics Championships) yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta.
Penolakan ini didasarkan pada komitmen historis dan konstitusional Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina dan menolak segala bentuk penjajahan.
PKS juga mengungkap kekhawatiran bahwa kehadiran atlet Israel akan dimanfaatkan sebagai sarana "sportswashing" untuk menutupi isu kemanusiaan di Palestina.
Alasan utama yang dikemukakan oleh politisi PKS adalah konsistensi sikap bangsa Indonesia terhadap isu Palestina.
Para anggota legislatif dari Fraksi PKS, seperti Mardani Ali Sera (Ketua BKSAP DPR RI) dan Sukamta (Wakil Ketua Komisi I DPR RI), menegaskan bahwa penolakan ini merupakan wujud solidaritas konkret terhadap perjuangan rakyat Palestina yang masih berada di bawah pendudukan dan menghadapi dugaan genosida.
Mardani Ali Sera menyatakan bahwa keberadaan institusi Israel, termasuk keikutsertaan atletnya, wajib ditolak selama Israel belum menghadirkan perdamaian di Palestina.
Sukamta mengingatkan bahwa sikap Indonesia ini sejalan dengan Pembukaan UUD 1945, yang secara eksplisit menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Menurut PKS, mengizinkan atlet Israel bertanding di tengah situasi konflik yang parah di Palestina akan membuat Indonesia terkesan tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat Palestina dan mengabaikan amanat konstitusi.
Selain alasan konstitusional, PKS juga menyoroti aspek diplomasi dan keamanan publik.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, memperingatkan Pemerintah agar tidak terperdaya oleh agenda sportswashing Israel.
Sportswashing merujuk pada praktik suatu negara menggunakan acara olahraga untuk meningkatkan citra publiknya dan mengalihkan perhatian dari isu-isu negatif, seperti pelanggaran hak asasi manusia.
PKS menegaskan, Indonesia tidak boleh menjadi bagian dari upaya Israel menggunakan olahraga untuk menutupi kejahatan kemanusiaannya terhadap Palestina.
PKS juga khawatir bahwa kehadiran atlet Israel di Jakarta akan menyulut dan memantik kemarahan publik di Indonesia, yang mayoritas sangat mendukung perjuangan Palestina.
Anggota dewan PKS mendorong Pemerintah dan penyelenggara untuk memikirkan kembali izin tersebut agar tidak merusak kepercayaan masyarakat dan komitmen Indonesia terhadap Palestina.
PKS, bersama dengan sejumlah pihak lain seperti PDI Perjuangan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), mendesak Pemerintah, khususnya Kementerian Luar Negeri dan pihak Imigrasi, untuk bersikap tegas menolak mengeluarkan visa bagi para atlet Israel guna mempertahankan kedaulatan politik dan diplomasi kemanusiaan Indonesia di kancah global. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.