RadarBuleleng.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, viral di media sosial.
Dalam sebuah forum konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Cucun menyebut bahwa program MBG tidak harus selalu melibatkan ahli gizi.
Cucun bahkan menyatakan bahwa posisi tersebut dapat digantikan oleh tenaga non-gizi yang mengikuti pelatihan singkat.
“Republik ini bukan milik ahli gizi,” ujar Cucun dalam pertemuan tersebut.
Cucun menilai bahwa keterlibatan tenaga gizi tidak harus dibatasi pada lulusan sarjana gizi, melainkan dapat diisi oleh orang lain yang mendapatkan sertifikasi setelah pelatihan beberapa bulan.
Perubahan istilah dari “ahli gizi” menjadi “pengawas gizi” agar cakupan perekrutan lebih luas juga diusulkan oleh Cucun.
Pernyataan itu langsung menuai kritik dari komunitas kesehatan dan profesional gizi.
Mereka menilai bahwa peran ahli gizi tidak dapat digantikan oleh tenaga dengan pelatihan jangka pendek, terutama karena program MBG menyangkut kesehatan dan asupan anak sekolah.
Ahli gizi yang hadir dalam forum sebelumnya telah memaparkan kebutuhan tenaga profesional dalam penyusunan menu dan pengawasan sanitasi dapur.
Mereka mengungkapkan bahwa standar kompetensi ahli gizi mencakup pendidikan formal, kode etik, dan kepemilikan Surat Tanda Registrasi (STR).
Keputusan mengganti tenaga gizi profesional dengan lulusan SMA atau non-gizi berpotensi menurunkan kualitas menu, keamanan makanan, dan standar gizi dalam program MBG.
Hal tersebut dianggap berisiko mengurangi efektivitas program yang dirancang untuk meningkatkan status gizi anak.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengakui adanya kendala terkait ketersediaan tenaga gizi profesional.
Dadan menyatakan bahwa kelangkaan sarjana gizi membuat pemenuhan ahli gizi di seluruh SPPG tidak mudah.
“Kita tahu terjadi kelangkaan sarjana gizi,” ujar Dadan.
Karena itu, BGN mempertimbangkan penggunaan tenaga non-gizi sebagai solusi sementara. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya