Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Waspada! Penipuan Berkedok Sewa Villa Makin Marak Jelang Nataru

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 19 Desember 2025 | 20:20 WIB
Suasana salah satu villa di Seminyak, Bali. Wisatawan diimbau waspada dengan ancaman penipuan berkedok sewa villa murah.
Suasana salah satu villa di Seminyak, Bali. Wisatawan diimbau waspada dengan ancaman penipuan berkedok sewa villa murah.

RadarBuleleng.id - Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), minat wisatawan memesan akomodasi wisata, khususnya villa, cenderung meningkat. 

Namun di tengah tingginya permintaan tersebut, masyarakat dan wisatawan diingatkan untuk lebih waspada menyusul maraknya penipuan penyewaan villa yang beredar di media sosial.

Modus penipuan umumnya dilakukan dengan memajang foto dan video villa menarik tanpa disertai alamat jelas. 

Promosi banyak dilakukan melalui media sosial, terutama Instagram. Pelaku biasanya menjanjikan alamat lengkap setelah calon penyewa melakukan pembayaran. Namun setelah uang ditransfer, akun pelaku tiba-tiba menghilang.

Salah satu kasus penipuan dialami wisatawan asal Jakarta yang memesan villa di kawasan Canggu melalui akun Instagram bernama @thevillabali_. 

Korban disebut telah melakukan pembayaran lunas menggunakan QRIS. Setelah itu, pelaku kembali meminta deposit sebesar Rp 5 juta dengan dalih agar kode booking promo segera terbit.

Dalam pesan yang diterima korban, admin akun tersebut menjanjikan dana deposit hanya bersifat sementara dan akan dikembalikan dalam waktu 5–10 menit setelah proses aktivasi. 

Namun setelah pembayaran dilakukan, komunikasi terputus dan villa yang dijanjikan tak pernah ada.

Rupanya Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA) mencatat bahwa akun tersebut memang akun yang digunakan untuk penipuan atau scam.

Ketua BVRMA, Kadek Adnyana membenarkan bahwa periode Nataru kerap diwarnai maraknya aksi penipuan yang memanfaatkan tingginya minat wisatawan. 

Modus yang digunakan hampir seragam, yakni menawarkan villa dengan harga sangat murah untuk menarik perhatian, lalu menghilang setelah pembayaran dilakukan.

“Menyikapi hal ini, BVRMA mengimbau wisatawan untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam melakukan pemesanan akomodasi,” ujarnya.

Sebagai upaya perlindungan wisatawan dan pelaku usaha yang taat aturan, BVRMA telah menyediakan platform verifikasi villa yang aman dan terpercaya. 

Wisatawan dapat mengecek legalitas serta kredibilitas villa melalui laman verifikasi resmi BVRMA.

Di sisi lain, Adnyana juga mengungkapkan kondisi sektor pervilaan di Bali jelang Nataru justru menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. 

Data BVRMA mencatat tingkat okupansi villa di bawah manajemen anggota asosiasi hanya berada di kisaran 55–60 persen. Angka ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai sekitar 65 persen.

Penurunan tersebut diduga dipengaruhi kekhawatiran wisatawan terhadap potensi bencana alam, khususnya banjir di beberapa wilayah Bali. 

Selain itu, pertumbuhan properti villa yang disewakan dinilai sangat pesat, namun tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan. 

Kondisi makin diperparah dengan minimnya promosi dan penguatan branding pariwisata Bali ke pasar internasional dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data BVRMA, saat ini tercatat lebih dari 49 ribu listing properti akomodasi di berbagai platform online travel agent (OTA) di Bali. 

Angka tersebut diperkirakan akan bertambah dengan sekitar 12 ribu unit properti baru yang siap kembali disewakan, berdasarkan data Real Estate Info Indonesia (REID).

Tanpa pengawasan dan penataan yang serius, BVRMA menilai kondisi ini berpotensi memicu oversupply, perang tarif tidak sehat, hingga penurunan nilai investasi dan pendapatan usaha di sektor pervilaan. 

Fenomena tersebut mulai terlihat di media sosial, di mana sejumlah villa dua kamar tidur ditawarkan dengan harga sangat murah, bahkan hanya sekitar Rp 500 ribu per malam, jauh di bawah standar harga wajar.

“Jika dibiarkan tanpa regulasi yang tegas, situasi ini dapat menjadi boomerang bagi keberlanjutan bisnis villa di Bali dalam jangka panjang,” tegas Adnyana. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#tahun baru #villa #libur #qris #natal #penipuan #wisatawan #nataru #akun #akomodasi wisata #media sosial