SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Temuan mencengangkan soal ratusan siswa SMP di Buleleng yang belum lancar membaca dan menulis, menuai reaksi keras.
Politisi asal Desa Bungkulan, Buleleng, Dewa Nyoman Sukrawan menyebut fenomena itu sebagai bentuk kegagalan sistem pendidikan, bukan sekadar masalah disleksia.
"Jujur saya malu. Buleleng yang disebut-sebut sebagai Kota Pendidikan, justru kecolongan seperti ini. Ini bukan hal biasa. Ini alarm bahaya bahwa sistem kita bermasalah," tegas Sukrawan saat ditemui di Singaraja.
Mantan Ketua DPRD Buleleng itu menyebut ada banyak faktor yang membuat kemampuan dasar siswa terabaikan.
Mulai dari sistem pembelajaran yang terlalu digital, kurangnya latihan menulis, hingga tidak adanya pekerjaan rumah (PR) yang mendukung pemahaman pelajaran.
“Sekarang anak-anak lebih sering mengetik daripada menulis. Padahal dengan menulis, otomatis kemampuan membaca juga ikut terasah. Tapi sekarang semua serba cepat, serba digital, akhirnya fondasi jadi rapuh,” ujarnya.
Sukrawan juga menyayangkan kebijakan yang terkesan membiarkan semua siswa naik kelas, tanpa melihat kemampuan riil mereka.
“Dulu kalau belum bisa baca, ya tidak naik kelas. Sekarang semua diluluskan. Apa gunanya pendidikan kalau kualitas diabaikan? Mau belajar fisika, matematika, bahasa Inggris bagaimana? Padahal calistung saja belum beres,” sindirnya.
Sukrawan juga menyinggung fenomena diskriminasi terhadap guru yang makin sering terjadi.
Ia menilai orang tua terlalu melindungi anak secara berlebihan, bahkan tidak segan melaporkan guru yang dianggap terlalu keras dalam mendidik.
“Ada guru yang niat mendidik, malah disalahkan. Sampai harus minta maaf, bahkan berurusan dengan hukum. Ini membuat wibawa guru makin runtuh. Kalau begini terus, siapa yang mau mendidik dengan sungguh-sungguh?” kritiknya.
Sukrawan mendesak Pemkab Buleleng, DPRD, dan Dinas Pendidikan untuk segera turun ke lapangan memberikan edukasi kepada masyarakat dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum dan sistem belajar saat ini.
“Jangan lagi ada arahan di sekolah bahwa semua anak wajib lulus. Kalau begitu, yang belajar justru gurunya, bukan muridnya. Ini bukan soal lulus atau tidak lulus, tapi soal kualitas SDM yang kita hasilkan,” tegas Sukrawan.
Sukrawan juga meminta kepada para guru agar tidak kehilangan semangat dalam menjalankan tugas, dan tetap fokus pada misi utama. Yakni mencerdaskan anak bangsa.
“Ini momentum untuk bangkit. Jangan saling menyalahkan, tapi mari bertanggung jawab bersama. Jika tidak ditangani serius, Buleleng akan kehilangan generasi emasnya,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya