RadarBuleleng.id - Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) ikut turun tangan dalam upaya menjaga keberlanjutan seni lukis wayang Kamasan, salah satu warisan budaya Bali yang telah berkembang sejak abad ke-14.
Upaya tersebut dilakukan di tengah tantangan regenerasi pelukis Wayang Kamasan. Terlebih makin banyak maestro yang kini memasuki usia lanjut. Sementara minat generasi muda masih terbatas.
Seni lukis wayang Kamasan tidak sekadar menjadi elemen dekoratif, melainkan menyimpan makna filosofis dan nilai sosial masyarakat Bali.
Keberadaannya dapat dilihat jelas pada relief dan langit-langit Kertha Gosa di Semarapura yang menyimpan narasi kehidupan, moral, dan ajaran leluhur.
Menjawab tantangan tersebut, tim akademisi Undiksha melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025.
Program tersebut dipimpin oleh Made Susi Lissia Andayani, didampingi dosen Ida Bagus Nyoman Pascima dan I Gusti Lanang Agung Raditya Putra, serta melibatkan sejumlah mahasiswa.
Dalam pelaksanaannya, tim berkolaborasi dengan Rumah BUMN Klungkung, Pemerintah Desa Kamasan, serta sanggar seni lokal seperti Wasundari dan Sinar Pande.
Kolaborasi tersebut menjadi kunci untuk menjangkau pelaku seni hingga generasi muda di tingkat akar rumput.
Program pengabdian ini difokuskan pada tiga aspek utama. Dari sisi pelestarian, tim menggelar lomba mewarnai dan melukis sketsa wayang Kamasan guna menumbuhkan minat anak-anak sejak dini.
Lomba tersebut diharapkan menjadi pintu masuk regenerasi pelukis tradisional.
Pada aspek pemasaran, dosen dan mahasiswa memberikan pelatihan branding, fotografi produk, serta pengelolaan media sosial.
Langkah itu dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan nilai jual karya seni Kamasan di era digital.
Sementara itu, dari sisi teknologi, Undiksha mengembangkan Augmented Reality Portal (AR Portal), sebuah galeri virtual yang dapat diakses melalui pemindaian QR Code pada lukisan maupun produk turunan seperti handbag dan udeng.
Melalui galeri virtual tersebut, pengunjung dapat menikmati cerita rakyat, profil maestro, hingga koleksi karya wayang Kamasan, seolah berada di dalam galeri sungguhan.
Ketua tim pengabdian, Made Susi Lissia Andayani mengatakan, seni lukis wayang Kamasan merupakan bagian dari kekayaan budaya Bali yang harus dijaga bersama.
“Melalui lomba, pelatihan branding, dan AR Portal, kami berharap terbuka ruang bagi generasi muda dan masyarakat luas untuk mengapresiasi serta menjaga keberlanjutan seni ini,” ujarnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya