Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Empat Sekolah di Buleleng Jadi Pilot Project Gerakan Menanam untuk Ketahanan Pangan Bali

Francelino Junior • Selasa, 13 Januari 2026 | 10:23 WIB

 

SERAHKAN BIBIT: Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) menyerahkan bibit cabai kepada Sekda Buleleng, Gede Suyasa (kanan).
SERAHKAN BIBIT: Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) menyerahkan bibit cabai kepada Sekda Buleleng, Gede Suyasa (kanan).

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Kabupaten Buleleng ditetapkan sebagai daerah percontohan Gerakan Menanam dalam rangka Ketahanan Pangan Berbasis Sekolah di Bali. 

Program ini menyasar empat satuan pendidikan sebagai langkah awal memperkuat ketahanan pangan sejak usia dini.

Sebanyak empat sekolah ditunjuk menjadi pilot project tersebut. Yakni SDN 3 Banjar Jawa, SMPN 1 Singaraja, SMAN 1 Singaraja, dan SMKN 3 Singaraja. 

Peluncuran program digelar serentak pada Senin (12/1/2026) dan dihadiri langsung Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, Prof. Akmal Malik, yang juga merupakan salah satu Pembina Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN).

Gerakan ini diprakarsai YSPN dan telah lebih dulu diterapkan di lima provinsi lain di Indonesia. 

Buleleng dipilih sebagai percontohan di Bali karena dinilai memiliki semangat serta potensi besar dalam mengembangkan budaya menanam di lingkungan pendidikan.

Selain dikenal dengan kekayaan budaya dan seni yang mendunia, Buleleng diharapkan mampu menghadirkan nilai baru melalui penguatan budaya menanam sebagai jawaban atas tantangan kebutuhan pangan berkelanjutan.

“Ini adalah program ketahanan pangan berbasis sekolah. Fokus kami adalah membangun budaya dan etos menanam sejak dini, yang menjadi fondasi kemandirian pangan,” jelas Akmal Malik.

Ia menegaskan, gerakan ini tidak sekadar aktivitas menanam tanaman di sekolah. Lebih dari itu, program dirancang sebagai upaya sistematis membangun ketahanan pangan dengan melibatkan generasi muda sebagai aktor utama.

Selama ini, pembangunan sektor pertanian masih cenderung bertumpu pada infrastruktur dan sarana produksi. Sementara aspek etos, spirit, dan budaya menanam belum digarap secara optimal. Melalui sekolah, kekosongan tersebut diharapkan bisa diisi.

Lembaga pendidikan dinilai menjadi sektor strategis dalam mendukung ketahanan pangan daerah. 

Selain sebagai pusat pembelajaran, sekolah juga merupakan ruang pembentukan karakter dan kebiasaan positif peserta didik, termasuk kepedulian terhadap lingkungan dan kemandirian pangan.

Namun demikian, ditekankan pula bahwa penanaman kesadaran ketahanan pangan harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak berhenti pada kegiatan menanam semata. Edukasi, pendampingan, hingga pemanfaatan hasil panen menjadi bagian penting dari gerakan ini.

Dengan pendekatan tersebut, gerakan menanam di sekolah diharapkan mampu membentuk kebiasaan baru di kalangan pelajar, sekaligus menjadi model yang dapat direplikasi oleh sekolah lain di seluruh Bali.

Sebagai contoh konkret, harga cabai kerap melonjak tinggi menjelang hari raya keagamaan di Bali. Jika pelajar mampu memanen hasil tanamannya sendiri, tekanan harga di pasar diharapkan dapat berkurang.

Sekda Buleleng, Gede Suyasa menegaskan, komitmen pemerintah daerah dalam mendukung keberlanjutan program tersebut. 

“Pemerintah daerah, melalui dinas terkait dan dengan dukungan kelompok petani muda, akan melakukan pendampingan berkelanjutan hingga tanaman menghasilkan,” ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #ketahanan pangan #kementerian dalam negeri #smpn 1 singaraja #otonomi daerah #pangan #sdn 3 banjar jawa #pendidikan #swatantra #sman 1 singaraja #budaya #sekolah #buleleng #smkn 3 singaraja