MENJELANG malam, suasana Asrama Putri Institut Mpu Kuturan di Jalan Pulau Menjangan, Buleleng, mulai hidup. Dari salah satu kamar terdengar suara tawa yang pecah saat permainan Uno berlangsung sengit.
Di sudut lain, beberapa mahasiswi masih menatap layar laptop, bergelut dengan tugas kuliah yang harus dikumpulkan esok hari.
Sesekali terdengar percakapan dengan logat yang berbeda-beda.
Ada logat Bali yang khas. Ada pula dialek Maluku yang terdengar hangat. Tak jauh dari sana, terdengar aksen Lampung dan logat Papua dalam obrolan ringan menjelang waktu istirahat.
Mereka datang dari pulau yang berjauhan. Dipisahkan lautan, budaya, bahasa, bahkan ribuan kilometer jarak dari rumah masing-masing.
Namun di asrama sederhana itu, semua perbedaan perlahan melebur menjadi satu keluarga.
Bagi sebagian orang, asrama hanyalah tempat tinggal sementara selama menempuh pendidikan.
Namun bagi para mahasiswa putri di Institut Mpu Kuturan, tempat itu telah menjelma menjadi rumah kedua.
Tempat mereka pulang setelah seharian mengikuti perkuliahan. Tempat mereka berbagi cerita, tawa, air mata, hingga kerinduan kepada keluarga di kampung halaman.
Ema Nur Latu, mahasiswa asal Maluku, masih mengingat hari-hari pertama saat menginjakkan kaki di Bali dua tahun lalu.
Jauh dari orang tua dan lingkungan yang selama ini dikenalnya, membuat proses adaptasi tidak berjalan mudah.
Ia harus tinggal bersama orang-orang yang sama sekali baru, dengan kebiasaan dan karakter yang berbeda.
"Awalnya saya cukup sulit beradaptasi karena jauh dari keluarga dan harus bertemu banyak orang dengan kebiasaan yang berbeda. Namun lama-kelamaan saya merasa nyaman karena teman-teman di sini sangat baik," tuturnya.
Perasaan serupa pernah dirasakan Ayu Naya Divina Devasya. Mahasiswi asal Lampung itu memilih tinggal di asrama sejak tahun pertama kuliah.
Alasan awalnya sederhana. Tidak ada biaya sewa yang harus dibayar sehingga bisa membantu meringankan beban orang tua di kampung halaman.
Namun seiring waktu, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar tempat tinggal gratis.
Ia menemukan keluarga baru.
"Di sini saya merasa memiliki keluarga baru karena selalu ada teman yang menemani dan membantu," katanya.
Hal yang sama dirasakan Putri Gita Rachmawati, mahasiswi asal Papua. Selama setahun tinggal di asrama, ia mengaku tidak pernah merasa benar-benar sendiri.
Ketika mengalami kesulitan, selalu ada teman yang siap membantu. Ketika merasa lelah, selalu ada tempat untuk berbagi cerita.
"Teman-teman di asrama sudah seperti saudara sendiri karena selalu ada saat saya membutuhkan bantuan," ungkapnya.
Tentu, perjalanan membangun kedekatan itu tidak selalu berjalan mulus.
Pada awalnya, perbedaan budaya sempat menghadirkan kebingungan.
Ada penghuni yang terbiasa berbicara dengan nada lembut. Ada pula yang memiliki intonasi lebih tegas dan lugas.
Perbedaan cara berkomunikasi itu terkadang menimbulkan salah paham kecil. Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai memahami bahwa setiap daerah memiliki budaya yang berbeda.
"Awalnya saya sempat kaget karena cara berbicara teman-teman dari daerah lain berbeda dengan saya. Lama-kelamaan saya memahami bahwa itu bagian dari budaya mereka," ujar Naya.
Di asrama, mereka tidak hanya belajar teori di ruang kuliah.
Mereka juga belajar menjalani kehidupan yang sesungguhnya.
Belajar mengatur uang bulanan agar cukup sampai akhir bulan. Belajar membagi waktu antara tugas kuliah, organisasi, dan istirahat. Belajar menyelesaikan persoalan tanpa campur tangan orang tua.
Kemandirian tumbuh perlahan melalui rutinitas-rutinitas sederhana.
Mulai dari memasak bersama, berbagi lauk, mencuci pakaian sendiri, hingga belajar kelompok menjelang ujian.
"Kami sering memasak dan makan bersama. Walaupun sederhana, kegiatan seperti itu membuat kami semakin dekat," kata Naya.
Ketika musim ujian datang, suasana asrama berubah.
Meja-meja yang biasanya digunakan untuk bercengkrama mendadak dipenuhi buku dan laptop. Sebagian penghuni bertahan hingga larut malam untuk menyelesaikan tugas.
Namun mereka tidak pernah berjuang sendirian.
"Kadang kami belajar bersama sampai malam ketika ada tugas atau ujian. Dari situ kami saling membantu dan menyemangati," ujar Ketut Divinna, penghuni asal Bali yang telah tinggal selama empat tahun dan kini sedang menunggu wisuda.
Nilai kekeluargaan itu paling terasa ketika salah satu penghuni jatuh sakit.
Tanpa perlu diminta, teman-teman lain akan mengambil peran.
Ada yang membelikan makanan. Ada yang menemani berobat. Ada pula yang sekadar duduk menemani di kamar agar tidak merasa sendirian.
"Waktu saya sakit, teman-teman membantu mengurus saya. Mereka membelikan makanan dan selalu menanyakan keadaan saya. Itu yang membuat saya merasa asrama seperti rumah kedua," kenang Ema.
Ni Kadek Ardiani yang sedang menyelesaikan tugas akhir juga merasakan hal serupa.
Menurutnya, kepedulian menjadi budaya yang tumbuh secara alami di lingkungan asrama.
"Biasanya kami bergantian membantu. Ada yang membelikan makanan, menemani ke dokter, atau sekadar menemani di kamar," ujarnya.
Di sela kesibukan kuliah, para penghuni juga menciptakan cara sendiri untuk menikmati masa muda.
Kadang mereka bermain Uno atau Ludo hingga lupa waktu. Sesekali karaoke bersama.
Pada momen tertentu mereka pergi ke pantai, taman kota, atau sekadar berkeliling menikmati suasana Bali.
Bagi mahasiswa yang datang dari luar Pulau Dewata, kesempatan itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Tempat-tempat yang selama ini hanya mereka lihat melalui media sosial kini dapat mereka kunjungi secara langsung.
"Biasanya pergi ke pantai atau jalan-jalan bersama teman. Sekalian menyegarkan pikiran. Bali punya banyak tempat yang indah," ujar Ema.
Naya pun merasakan hal yang sama.
"Saya berasal dari luar Bali. Jadi senang bisa melihat langsung tempat-tempat yang sebelumnya hanya saya lihat di media sosial," katanya.
Sementara bagi Gita, pengalaman tinggal di Bali bukan hanya tentang pendidikan.
Lebih dari itu, ia mendapat kesempatan mengenal budaya Bali dari jarak yang sangat dekat.
"Saya senang bisa mengenal budaya Bali sekaligus menikmati keindahan alamnya. Ini menjadi salah satu pengalaman terbaik selama kuliah," tuturnya.
Meski berasal dari daerah yang berbeda-beda, para penghuni sepakat bahwa kehidupan di asrama mengajarkan satu hal penting.
Tentang bagaimana menghargai perbedaan.
Tentang bagaimana menerima kebiasaan orang lain tanpa harus mengubah jati diri masing-masing.
"Kami berasal dari daerah yang berbeda, tetapi selalu berusaha menghargai kebiasaan dan budaya masing-masing. Dari situ kami belajar banyak tentang keberagaman," kata Divinna.
Tentu saja rasa rindu kepada keluarga tetap datang.
Kadang hadir saat malam mulai sepi. Kadang muncul ketika melihat teman lain pulang ke rumah.
Untuk mengobatinya, mereka punya cara masing-masing.
Ada yang melakukan panggilan video dengan orang tua. Ada yang memasak makanan khas daerah. Ada pula yang menunggu kiriman makanan dari kampung halaman.
"Kalau sedang rindu rumah biasanya saya video call dengan orang tua. Kadang juga minta dikirim makanan dari kampung," ujar Naya sambil tersenyum.
Empat tahun, tiga tahun, dua tahun, atau satu tahun tinggal bersama membuat hubungan mereka jauh melampaui sekadar pertemanan.
Mahasiswa tingkat akhir menjadi kakak bagi adik tingkat. Mereka berbagi pengalaman tentang perkuliahan, skripsi, hingga dunia kerja yang segera menanti.
Di tempat sederhana itu, mereka belajar bahwa rumah tidak selalu berarti bangunan tempat dilahirkan.
Rumah juga bisa berupa orang-orang yang hadir ketika dibutuhkan. Tempat di mana seseorang diterima apa adanya.
Dan di Asrama Putri Institut Mpu Kuturan, rumah itu hadir dalam wujud yang sederhana: kebersamaan di tengah keberagaman.
Di bawah satu atap, Bali, Maluku, Lampung, Papua, dan berbagai daerah lainnya bertemu.
Bukan untuk menonjolkan perbedaan.
Melainkan untuk belajar hidup sebagai keluarga. (Penulis: Ni Kadek Utami Asih)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng