Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Malam Nisfu Sya’ban, Umat Muslim di Buleleng Gelar Acara Megibung

Eka Prasetya • Minggu, 25 Februari 2024 | 22:38 WIB

 

MEGIBUNG: Suasana megibung di Masjid Nurrahman, Kelurahan Kampung Singaraja saat peringatan malam Nisfu Sya
MEGIBUNG: Suasana megibung di Masjid Nurrahman, Kelurahan Kampung Singaraja saat peringatan malam Nisfu Sya

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Bulan Ramadan dalam kalender Islam, tinggal menghitung hari. Ramadan merupakan bulan yang paling dinanti oleh umat Islam.

Menjelang datangnya bulan Ramadan, ada malam Nisfu Sya'ban. Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam dimana Allah SWT akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik dan orang yang dihatinya tersimpan kebencian.

Pada malam Nisfu Sya’ban Allah SWT juga akan melapangkan penderitaan orang-orang yang dalam kondisi kesulitan, mengabulkan doa-doa umat, dan membebaskan sekelompok orang dari siksa neraka.

Malam Nisfu Sya’ban dirayakan umat Muslim dengan memperbanyak ibadah. Begitu juga di Kabupaten Buleleng.

Seperti yang berlangsung pada malam Nisfu Sya’ban yang jatuh Sabtu (24/2/2024). Umat Muslim di Buleleng memperbanyak ibadah dan amalan pada malam tersebut.

Umat memadati rumah ibadah, baik masjid dan mushola untuk melakukan sholat wajib dan melakukan amalan lain untuk memperbanyak pahala.

Di Masjid Nurrahman, Kelurahan Kampung Singaraja, umat sudah berdatangan sejak pukul 18.30 sore.

Mereka melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali.

Setelahnya umat melakukan sholat Isya berjamaah. Setelah Isya, dilanjutkan dengan sholat tasbih.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurrahman, H. Agus Annurachman mengatakan, bulan Sya’ban memiliki banyak rahmat dan keutamaan.

Menurutnya pada Nisfu Sya’ban, umat di Masjid Nurrahman yang ada di Kampung Jawa, Dajan Puri Buleleng, memiliki tradisi membaca Surat Yasin sebanyak tiga diantara waktu Maghrib dan Isya.

Selanjutnya umat juga memiliki tradisi melakukan sholat Tasbih setelah sholat Isya.

“Para ulama sepakat dan menganjurkan agar sholat tasbih bisa dilaksanakan setiap hari. Kalau tidak mampu, bisa dilakukan seminggu sekali. Bila tidak mampu, sebulan sekali. Atau setahun sekali. Bila tidak mampu, paling tidak sekali seumur hidup. Insya Allah kami bisa melaksanakan setahun sekali,” ujarnya.

Setelah melakukan sholat tasbih, umat kemudian melakukan acara bancakan atau megibung, alias makan bersama.

Umat akan menyantap hidangan yang telah disiapkan. Hidangan-hidangan itu merupakan sumbangan dari umat di masjid.

Ada yang menyumbangkan nasi, air mineral, kue, maupun buah-buahan. Semua disantap bersama-sama dengan penuh sukacita.

Menurut Agus Annurachman, tradisi megibung dilakukan untuk mempererat jalinan silaturahmi antara umat muslim di masjid tersebut.

“Karena jemaah kita terpencar. Ada di sekitar masjid, ada yang di Denpasar, Jembrana, dan beberapa tempat lain. Pada momen tertentu dan hari besar mereka akan datang berkumpul. Itu jadi momentum kita kumpul bersama dan mempererat silaturahmi,” demikian Agus. (*)

Editor : Eka Prasetya
#muslim #megibung #Nisfu Sya'ban #Kampung Singaraja #buleleng #Singaraja