Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Sikapi Seniman Gong Legendaris Buleleng Ngambul, Majelis Kebudayaan Bali: Kebanggan Seniman Hanya Apresiasi

Eka Prasetya • Senin, 1 April 2024 | 23:42 WIB

 

ANGKAT BICARA: Ketua Sabha Prajuru Majelis Kesenian Bali, Prof. I Komang Sudirga.
ANGKAT BICARA: Ketua Sabha Prajuru Majelis Kesenian Bali, Prof. I Komang Sudirga.

RadarBuleleng.id - Peristiwa seniman gong legendaris Buleleng yang ngambul saat penutupan HUT Kota Singaraja ke-420 terus bergulir hingga menuai komentar dari berbagai pihak.

Majelis Kebudayaan Bali juga angkat bicara terkait dengan peristiwa yang viral di media sosial itu.

Ketua Sabha Prajuru Majelis Kebudayaan Bali, Prof. I Komang Sudirga mengatakan, pihaknya sudah berusaha melakukan penelusuran kebenaran terkait video tersebut.

Dari hasil penelusuran, Sudirga berpendapat ada miskomunikasi yang terjadi antara penyelenggara dengan para seniman yang telah berada di atas panggung.

Menurut Sudirga, pemerintah sebenarnya punya maksud yang baik. Yakni menghadirkan kesenian tradisi dan modern pada panggung yang sama dan setara.

“Ini masalah dalam pengelolaan pementasan saja. Secara etik ada pertunjukan dalam tempat yang sama, kemudian disela oleh pementasan lain itu kurang elok memang. Mungkin panitia perlu melakukan introspeksi dalam pemanggungan seni,” ungkap Sudirga pada Senin (1/4/2024).

Mencermati kronologi yang terjadi saat penutupan HUT Kota Singaraja ke-420, ia menilai ada ketersinggungan secara emosional. 

Sehingga akhirnya para seniman memilih turun dari panggung, sekaligus menurunkan perangkat gamelan mereka.

Pria yang guru besar bidang kajian seni karawitan itu menduga, para seniman itu merasa kurang diapresiasi karena disela dengan penampilan band. 

Padahal para seniman gong kebyar legendaris itu sudah memakan waktu lama untuk latihan. Termasuk melakukan prosesi nedunang gong duwe sebelum melakukan pementasan.

“Kebanggaan seniman itu, apalagi seniman lingsir adalah ketika mereka diberi panggung dan mendapat apresiasi atas apa yang mereka ciptakan dan tampilkan. Kalau diselipkan band, itu dirasa tidak menghargai apa yang sudah mereka upayakan untuk tampil,” ujar pria yang juga Wakil Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu.

Ia berharap hal tersebut menjadi pembelajaran bagi semua pihak dalam tata kelola manajemen pertunjukan. Baik itu pada acara-acara yang digelar oleh pemerintah, maupun yang digelar oleh pihak swasta atau event organizer.

“Bagi seniman, hal-hal seperti ini sangat sensitif. Karena jadwal akhirnya merasa mendapat perlakuan yang kurang berkenan,” ujarnya.

Sementara itu Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menyatakan, dia telah bertemu dengan kelian sekaa gong pada Sabtu (30/3/2024) malam lalu. Saat itu dia telah melakukan klarifikasi.

Selain pada Minggu (31/3/2024) Dinas Kebudayaan Buleleng telah ngaturang guru piduka di Banjar Paketan dan Desa Jagaraga sebagai bentuk permohonan maaf.

Lihadnyana mengatakan, para seniman sudah sempat menampilkan tabuh mereka. Hanya saja belum menampilkan tari-tarian.

Selanjutnya penampilan mereka diselingi dengan penampilan band dan fashion show.

“Karena legendaris, ada taksu tersendiri, ternyata tidak bisa dipadukan dengan musisi modern. Ini bahan evaluasi bagi kami,” ujarnya.

Ia menyatakan pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap insiden itu. Dia juga tidak akan mencari-cari kesalahan dalam peristiwa tersebut. 

“Kami di Pemkab yang harus tanggung jawab,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sekaa gong kebyar legendaris di Buleleng ngambul. Sekaa gong itu adalah Sekaa Gong Kebyar Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga, serta Sekaa Gong Kebyar Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan.

Keduanya semestinya tampil saat malam penutupan HUT Kota Singaraja ke-420 di Lapangan Bhuana Patra pada Sabtu (30/3/2024) lalu.

Mereka memilih turun panggung, karena kecewa. Para seniman merasa diperlakukan tidak pantas karena pementasan mereka tidak tuntas. Melainkan disela oleh penampilan band dan fashion show.

Para seniman juga langsung mengangkut perangkat gamelan mereka, lalu angkat kaki dari lokasi pementasan.

Aksi itu merupakan puncak kekecewaan para seniman terkait manajemen pementasan saat HUT Kota Singaraja ke-420.

Kelian Sekaa Gong Kebyar Legendaris Jaya Kusuma, Arya Suriawan mengatakan, kekecewaan anggota sekaa sebenarnya sudah berlangsung sejak Sabtu siang.

Sekitar pukul 11.30 siang pihaknya sudah bersiap di sekitar panggung utama untuk check sound. Mereka menunggu giliran karena Sekaa Gong Eka Wakya tengah melakukan check sound.

Sekitar pukul 12.00 semestinya mereka mendapat giliran melakukan check sound. Namun mereka justru diminta mendahulukan kru dari band yang hendak melakukan check sound.

“Akhirnya saya minta teman-teman biar langsung siap-siap merias diri. Check sound nanti saja setelah selesai riasan,” katanya.

Penempatan posisi penabuh juga membuat mereka mengelus dada. Penabuh berada di sisi panggung sehingga sulit dilihat penonton. Posisi mereka tertutup sound system dan kain.

Mereka sempat tampil sejenak sebelum acara penutupan. Penampilan tabuh itu terasa seperti penampilan tabuh penyambut tamu.

Para seniman pun tetap diminta berada di atas panggung. Hingga pukul 20.00 malam tidak ada kejelasan akan tampil. Namun bukannya pentas, mereka justru diminta bersabar karena ada band yang akan pentas.

“Saat itu sudah tidak bisa sabar lagi. Akhirnya kami sama Banjar Paketan bersamaan turun dari panggung. Kami kecewa karena band-band saja yang didahulukan,” ungkap pria yang akrab disapa Arya Merenges itu.

Kekecewaan itu makin berlipat, karena yang diperlakukan tidak pantas adalah sekaa gong dari Jagaraga. Notabene sekaa gong tersebut yang membawa nama gong kebyar Buleleng mendunia.

Selain itu dalam pementasan itu mereka juga membawa barung gong kebyar duwe yang selama ini di-stanakan di Pura Desa Jagaraga. Pihak sekaa juga mundut adegan dari maestro gong kebyar Gde Manik.

“Taksu dan kesakralan dari kesenian dan perangkat gong duwe tidak dianggap. Kami mau pentas itu tidak main-main. Kami atur piuning dulu ke pura dan griya sebelum nedunang gong kebyar ini,” tegasnya,

Demikian pula dengan Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya. Mereka nedunang gong duwe yang selama ini di-stanakan di Pura Pengaruman Banjar Paketan. (*)

Editor : Eka Prasetya
#bali #seniman #hut kota singaraja #Majelis Kebudayaan Bali #gong kebyar #buleleng #gong legendaris