Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Usai Saraswati, Umat Gelar Upacara Banyupinaruh. Berikut Makna Banyupinaruh Menurut Akademisi STAHN Mpu Kuturan

Eka Prasetya • Minggu, 14 Juli 2024 | 23:09 WIB

 

BANYUPINARUH: Umat Hindu saat melangsungkan upacara banyupinaruh di Pantai Kerobokan, Buleleng.
BANYUPINARUH: Umat Hindu saat melangsungkan upacara banyupinaruh di Pantai Kerobokan, Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Umat Hindu di Bali merayakan hari raya suci Saraswati pada Sabtu (13/7/2024) lalu, bertepatan dengan rahina saniscara umanis watugunung.

Kini pada Minggu (14/7/2024) pagi, yang juga bertepatan dengan rahina redite pon sinta, umat melakukan proses banyupinaruh.

Pada Minggu pagi, umat berduyun-duyun mendatangi pantai untuk sekadar mandi. Sekaligus melakukan prosesi penyucian diri.

Salah satu lokasi yang padat pengunjung adalah Pantai Kerobokan, Buleleng. Pantai ini menjadi salah satu rujukan bagi warga di Kecamatan Sawan dan sekitarnya.

Baca Juga: Lapangan Dipenuhi Lumpur, Siswa SMPN 4 Gerokgak Urung Upacara Bendera

Salah seorang pengunjung, Made Wirta, 73, mengaku dirinya sengaja datang ke Pantai Kerobokan untuk melakukan upacara melukat. Sekaligus memohon tuntunan dan keselamatan kepada Sang Hyang Baruna sebagai penguasa laut.

"Harapannya setelah banyupinaruh ini dianugerahi keselamatan lahir batin," ujar pria asal Kelurahan Banyuning itu.

Dosen di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan Singaraja, I Made Bagus Andi Purnomo mengatakan, bahwa banyupinaruh sebenarnya berasal dari dua kata yakni banyu yang berarti air dan pinaruh atau pangaweruh yang berarti pengetahuan. 

Secara filosofis, banyupinaruh dapat dimaknai sebagai proses penyucian badan kasar dan badan halus dengan sarana air. 

Baca Juga: Jelang Hari Raya Galungan, Keperluan Upacara Disuplai dari Pulau Jawa

Air yang dalam hal ini bermakna pengetahuan, diharapkan mampu menghilangkan awidya atau kegelapan pada pada diri manusia.

"Sudah tentu tujuan dan arahnya untuk membersihkan atau menyucikan diri dengan air ilmu pengetahuan, karena pikiran yang kotor atau kegelapan hanya bisa dibersihkan dengan pengetahuan suci," jelasnya. 

Bagus Andi mengatakan banyupinaruh selalu dikaitkan  dengan hari suci Saraswati. Sebab ilmu pengetahuan dimaknai sebagai air yang mengalir.

“Umat sebaiknya makin tekun menuntut ilmu pengetahuan. Baik itu kerohanian, ilmu untuk kehidupan, demi mewujudkan kebahagiaan di dunia dan di alam fana nanti,” demikian Bagus Andi. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#hindu #Saraswati #umat #STAHN Mpu Kuturan #buleleng