SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Gedong Kirtya menjadi salah satu peninggalan sejarah penting di Buleleng.
Gedong Kirtya menjadi museum lontar pertama di Indonesia. Museum ini menyimpan ribuan manuskrip lontar, serta ribuan buku-buku kuno.
Koleksi berusia ratusan tahun tersebut dirawat hingga kini. Manuskrip-manuskrip itu juga menjadi pengetahuan yang masih dibahas hingga kini.
Gedong Kirtya sebenarnya didirikan pada 2 Juni 1928 oleh dua orang intelektual Belanda, yakni Van der Tucht dan Lievring.
Mereka terpesona oleh kekayaan intelektual yang ada Buleleng. Manuskrip-manuskrip yang berisi pengetahuan begitu melimpah.
Manuskrip-manuskrip itu dikumpulkan hingga menjadi sebuah museum. Selanjutnya museum tersebut ini resmi dibuka pada 14 September 1928.
Sejak saat itu, Gedong Kirtya terus berperan penting dalam melestarikan naskah-naskah lontar kuno yang sarat dengan pengetahuan dan tradisi leluhur.
Kepala UPTD Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati mengungkapkan koleksi di Gedong Kirtya bukan hanya lontar. Tapi juga buku-buku tua dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Perancis.
Saat ini tercatat ada 2.064 cakep lontar di museum tersebut, serta 8.494 eksemplar buku tua.
"Pada tahun 2023, Gedong Kirtya mendapat pengakuan nasional dengan dinominasikan sebagai museum terunik di Indonesia. Meski hanya sebagai nominasi, ini menunjukkan apresiasi luas terhadap upaya pelestarian budaya luar biasa yang dilakukan di Buleleng," ungkap Dewa Ayu.
Menurut Dewa Ayu, pihaknya juga berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Manuskrip-manuskrip kuno mulai mengalami proses alih aksara dan alih bahasa.
Ratusan judul lontar telah melalui proses alih aksara, sementara puluhan lainnya dalam proses alih bahasa.
Lontar-lontar yang sudah melalui proses alih aksara dan alih bahasa kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku.
Selain itu pihaknya juga melakukan proses digitalisasi lontar. Dari ribuan lontar yang ada, sebanyak 459 judul lontar telah berhasil melalui proses digitalisasi.
"Digitalisasi ini tidak hanya melindungi lontar dari kerusakan fisik, tetapi juga memungkinkan siapa saja untuk mempelajari koleksi museum sebelum berkunjung," jelas Dewa Ayu.
Terpisah, staf pengelola Gedong Kirtya, Putu Suarsana mengatakan, manuskrip di Gedong Kirtya cukup tua. Sehingga harus dilakukan perawatan dan konservasi berkala.
Proses dilakukan dengan sangat teliti. Setiap lontar dibersihkan dari debu menggunakan minyak sereh, kemudian diangin-anginkan untuk memastikan kondisi lontar tetap baik.
Untuk mengembalikan warna hitam pada aksara dalam lontar, pengelola museum menggunakan kemiri bakar.
"Ini adalah proses sederhana, namun sangat penting untuk menjaga keutuhan lontar," jelasnya Suarsana.
Gedong Kirtya terbuka untuk umum dari Senin hingga Kamis pukul 08.00 hingga 15.00 WITA. Sedangkan pada hari Jumat buka pada pukul 08.00 hingga 12.30 WITA.
Pengunjung dapat melihat langsung proses perawatan dan konservasi lontar. Sedangkan untuk menyentuh lontar dibatasi, demi menjaga keutuhan manuskrip. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya