TEJAKULA, RadarBuleleng.id - Desa Adat Les Penuktukan di Kecamatan Tejakula, Buleleng, punya kesenian unik. Yakni Tari Baris Dadap.
Tarian ini tergolong dalam tari wali. Karena hanya bisa ditarikan di jeroan pura, saat berlangsung upacara piodalan di Pura Kahyangan Desa.
Terakhir kali, tarian tersebut dibawakan pada 22 September lalu. Bertepatan dengan rangkaian piodalan yang berlangsung di pura tersebut.
Tarian itu dibawakan oleh 8 orang laki-laki dewasa. Selain melakukan gerakan tari, mereka juga terkadang menyanyikan kidung yang diyakini menggunakan bahasa Jawa Kuno.
Sebagaimana lazimnya para penari baris, para penari juga mengenakan busana khusus. Seperti baju, badong, lamak, celana panjang, gelang kaki, serta gelungan segitiga.
Uniknya, saat menarikan Tari Baris Dadap, para penari membawa tameng berbahan kayu sebagai atribut tari.
Baca Juga: Sejarah Tari Rejang Ayunan: Tari Sakral asal Dauh Enjung yang Diusulkan Jadi Warisan Budaya
Bila umumnya tameng berbentuk bulat besar, maka tameng yang dibawa berbentuk lebih kecil. Bahkan bentuknya melengkung, menyerupai kapal.
Konon tameng tersebut merupakan warisan turun-temurun yang telah berumur ratusan tahun. Pusaka itu pun disakralkan dan selalu disimpan pada gedong simpen.
Jro Pasek Pura Dangka, I Nengah Yutama mengatakan, Tari Baris Dadap merupakan tari baris yang sangat disakralkan oleh krama desa.
Tari hanya ditarikan saat piodalan di Pura Kahyangan Desa dan sejumlah upacara adat tertentu seperti ngenteg linggih.
Tarian tersebut diyakini menggambarkan sekelompok prajurit yang selalu waspada menjaga wilayahnya guna menghadapi perang.
“Kami meyakini tameng dipakai melindungi diri dan untuk berjaga-jaga tetap waspada setelah berperang,” ungkap Yutama.
Yutama mengaku tak tahu pasti sejak kapan tarian itu ada. Sebab generasi pendahulu juga menyebutkan, tarian sudah ada sejak lama.
Selain itu tidak ada catatan sahih berupa prasasti maupun lontar yang mencatat soal tradisi itu. “Hanya berdasarkan cerita dari pendahulu-pendahulu kami,” imbuhnya.
Lebih lanjut Yutama mengatakan, para penari baris ditunjuk oleh pengurus adat. Mereka yang telah ditunjuk, tidak boleh menolak.
Setelah ditunjuk, mereka akan menjalani upacara melukat sebelum menarikan tarian sakral tersebut.
Kini tercatat ada 52 orang penari baris di Desa Adat Les Penuktukan. Mereka biasanya menari secara bergantian.
“Senior akan mengajarkan kalau ada anggota baru. Biasanya latihan itu menjelang piodalan,” demikian Yutama. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya