Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Tradisi Ngerebeg di Sambirenteng: Jejak Leluhur Menjaga Harmoni Alam

Admin • Rabu, 18 Juni 2025 | 22:24 WIB

 

RITUAL: Tradisi Ngerebeg di Desa Sambirenteng, Buleleng. Tradisi ini hanya dilaksanakan setahun sekali.
RITUAL: Tradisi Ngerebeg di Desa Sambirenteng, Buleleng. Tradisi ini hanya dilaksanakan setahun sekali.

TEJAKULA, RadarBuleleng.id - Senja mulai merayap di Desa Adat Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Suara kulkul menggema dari arah barat dan timur. Anak-anak berlarian membawa obor, menyusuri jalan desa yang diselimuti bayangan remang. 

Mereka bersiap melakukan ritual yang hanya dilakukan sekali dalam setahun. Ritual itu adalah tradisi ngerebeg. Masyarakat adat di Sambirenteng mewarisi tradisi itu dari leluhur mereka bertahun-tahun silam.

Ngerebeg hanya dilakukan setahun sekali. Yakni setiap tilem kaulu atau bulan mati kedelapan dalam kalender Bali. Biasanya tilem kaulu akan jatuh pada bulan Januari atau Februari dalam kalender masehi.

Bagi masyarakat adat di Sambirenteng, ngerebeg bukan upacara adat biasa. Melainkan cara mereka menjaga keseimbangan alam. Antara manusia, alam, dan semesta beserta isinya.

“Awalnya tradisi ini digelar karena desa dilanda bencana. Banyak warga sakit, konflik terjadi diantara krama. Lalu pemimpin desa memohon petunjuk ke Ida Bhatara dan mendapat pawisik agar mengadakan ngerebeg,” tutur Nengah Mas, Kelian Desa Adat Sambirenteng.

Menurutnya, “ngerebeg” berasal dari “ngebeg” yang berarti pembersihan. Sehingga upacara ini juga bermakna upaya menetralkan energi negatif yang dipicu oleh bhutakala.

Ritual dimulai dari pusat desa, tepatnya di Catus Pata. Di sanalah caru atau persembahan dihaturkan. Caru dapat berupa sapi betina muda atau babi. Selain itu ada juga pangkonan yang merupakan perlengkapan sesaji. Pemangku selanjutnya akan memimpin upacara guna memohon restu kepada Ida Bhatara Pingit yang berstana di Pura Mengkulem, hutan suci Alas Metaum.

Setelah caru dihaturkan, sesajen dibiarkan selama kurang lebih 15 menit. Lalu, prosesi berlanjut ke tahap nyomia bhutakala. Masyarakat, dari anak-anak hingga dewasa akan membagi diri dalam dua barisan besar. Mereka akan membawa obor, berjalan mengelilingi desa sebanyak tiga kali. Mulai dari catus pata ke arah timur atau barat, berputar ke arah selatan, lalu kembali ke titik awal.

“Ini wujud nyata tri hita karana di desa kami. Utamanya aspek palemahan, bagaimana kami di desa menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta,” jelas Nengah Mas.

Nengah Mas menegaskan, ngerebeg bukan sekadar ritual. Tapi media mengajarkan generasi muda desa mengenai kebersamaan, menghormati leluhur, dan pentingnya menjaga keseimbangan hidup. (Penulis: Kadek Ari Ratna Dewi)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#tejakula #tilem #ritual #obor #kalender #desa #jalan #tradisi #Desa adat #upacara #Sambirenteng #buleleng #Adat