Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Bawakan Tari Kreasi Hingga Dolanan Anak, Sanggar Santhi Budaya Tampil Memukau di Pesta Kesenian Bali

Eka Prasetya • Rabu, 25 Juni 2025 | 20:32 WIB

 

DOLANAN: Dolanan mabenteng-bentengan yang dibawakan Sanggar Seni Santhi Budaya pada ajang PKB 2025.
DOLANAN: Dolanan mabenteng-bentengan yang dibawakan Sanggar Seni Santhi Budaya pada ajang PKB 2025.

RadarBuleleng.id – Sanggar Seni Santhi Budaya berhasil tampil memukau dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.

Tampil di Panggung Ardha Candra Taman Budaya Bali, Santhi Budaya menjadi duta kesenian Kabupaten Buleleng dalam  ajang Utsawa Gong Kebyar Anak-anak, Pesta Kesenian Bali (PKB) pada Selasa (24/6/2025) malam.

Mereka membawa tiga garapan kreatif ditampilkan secara berurutan. Yakni tabuh kreasi Sasuluh, tari Sweta Pangkaja, serta dolanan anak-anak Mabenteng-bentengan.

Tabuh kreasi Sasuluh menjadi karya pembuka yang menonjolkan teknik mirroring dalam komposisi musik. Dengan struktur melodi yang dipantulkan atau dibalik, tabuh ini menyiratkan pesan pentingnya bercermin pada diri sendiri sebagai langkah awal dalam menjaga harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Tari Sweta Pangkaja yang dibawakan secara megah menjadi interpretasi visual dari perjalanan sejarah Ki Barak Panji Sakti, pendiri Kerajaan Buleleng. 

Tarian ini menggambarkan simbol bunga tunjung berhelai sembilan, yang notabene lambang kesucian dan kekuatan spiritual yang hingga kini menjadi filosofi sembilan kecamatan di Buleleng.

Baca Juga: Meriahkan PKB, Sanggar Tri Bhuwana Buleleng Siap Tampilkan Barong Ket

Ribuan penonton tampak antusias menyaksikan suguhan budaya khas Buleleng. Sorak dan tepuk tangan mengiringi tiap pertunjukan, mulai dari kemegahan komposisi Sasuluh, tarian penuh makna Sweta Pangkaja, hingga gelak tawa yang pecah saat adegan kocak dalam dolanan tradisional Mabenteng-bentengan.

Pembina Sanggar Santhi Budaya, I Gusti Ngurah Eka Prasetya menjelaskan, ketiga garapan tersebut bukan sekadar suguhan. Seluruh karya membawa pesan tentang kearifan lokal dan nilai-nilai budaya yang relevan bagi generasi muda.

Mabenteng-bentengan bukan sekadar permainan anak. Ini adalah simbol perjuangan dan semangat kebangsaan sejak usia dini. Kami ingin menanamkan nilai patriotisme dan menyama braya di tengah gempuran budaya luar,” ujar pria yang akrab disapa Gus Eka itu.

Gus Eka menyebut konsep Mabenteng-bentengan dikemas dalam bentuk drama lintas waktu. Menampilkan anak-anak dalam dua fase. Yakni masa kecil yang ceria dan masa remaja yang mulai dihadapkan pada konflik, seperti individualisme dan perundungan. 

“Kami ingin mengingatkan bahwa akar budaya bisa menjadi solusi sosial,” imbuhnya.

Total ada 132 orang anak terlibat dalam pertunjukan malam itu. Termasuk penabuh, penari, dan tim pendukung. 

Seluruh garapan dipersiapkan dengan serius, dengan proses latihan tabuh selama lima bulan dan persiapan tari serta dolanan selama 2,5 bulan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa seni tradisi tak pernah usang. Ia bisa tetap hidup dan tumbuh bersama zaman,” tegas Gus Eka. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Santhi Budaya #tari #pesta kesenian bali #taman budaya #sejarah #duta kesenian #Sanggar #musik #pkb #seni #tabuh bedug #pertunjukan #buleleng #anak #panggung