Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Tampil di Panggung PKB 2025, Sanggar Lila Kumara Busungbiu Bawakan Nuansa Bhuana Agung

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 1 Juli 2025 | 00:55 WIB

 

KEKEBYARAN DAUH ENJUNG: penampilan Sanggar Lila Kumara Busungbiu pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.
KEKEBYARAN DAUH ENJUNG: penampilan Sanggar Lila Kumara Busungbiu pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.

RadarBuleleng.id – Panggung Kalangan Ratna Kanda, Art Centre, Denpasar mendadak ramai, Jumat (27/6/2025). 

Hujan yang mengguyur tak menyurutkan semangat ratusan penonton yang antusias menyaksikan penampilan Sanggar Lila Kumara dari Busungbiu, Buleleng.

Mereka membawakan sejumlah garapan Bali Utara khas gaya dauh enjung dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2025. 

Mulai dari Tabuh Lelambatan Bangun Anyar, Tari Magrumbungan, Tari Kekelik, hingga sebuah drama musikal berjudul Lung Sri Sunari yang menutup penampilan dengan gemilang.

Pementasan ini tidak hanya menampilkan seni pertunjukan biasa. Sanggar Lila Kumara tampil menyuarakan harmoni antara manusia dan alam. 

“Drama musikal Lung Sri Sunari menggambarkan keindahan dan keselarasan alam Buleleng Barat, yang tetap terjaga berkat masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian dan laut,” terang Putu Arif Mahendra, Penanggung Jawab Karya Kekebyaran Buleleng Barat, didampingi Komposer I Gusti Bagus Putrayata.

Baca Juga: Identitas Budaya Buleleng Bersinar di Parade Busana Adat PKB 2025

Putu Arif menyebut, karya drama musikal tersebut menjadi debut di panggung PKB. Proyek ini sudah digarap sejak tiga tahun lalu, namun baru mencapai penyempurnaan dan layak tampil pada tahun ini.

“Drama musikal ini menggabungkan musikalisasi, gerak tari, palawakya, dan prolog. Semua unsur digabung menjadi satu sajian harmonis,” jelasnya.

Selain Lung Sri Sunari, sanggar juga menampilkan Tari Kekelik karya almarhum I Nyoman Durpa yang ditata ulang oleh Putu Arif pada 2013. 

Tarian ini mengisahkan perjuangan burung yang terusik oleh suara kekelik. Ada pula Tari Magrumbungan, hasil kolaborasi I Ketut Artika dan almarhum Durpa pada 1985.

Salah satu nilai lebih dari pementasan ini adalah keterlibatan seniman lintas generasi, mulai dari anak-anak TK hingga dewasa. Mereka tampil solid membawakan pesan spiritual tentang Dewi Sri dan Dewa Wisnu sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.

Total 70 seniman terlibat dalam Karya Kekebyaran Buleleng Barat, terdiri dari 30 penabuh, 20 penari, dan sisanya tim pendukung. Mereka menjalani latihan intensif selama sebulan, yang berbuah pada pementasan sukses di panggung bergengsi tersebut.

Usai tampil, suasana haru terasa di balik panggung. Beberapa penari tampak memeluk sesama penampil dan keluarga mereka. 

“Kami membawa nama Singaraja ke Denpasar. Itu harga diri kami sebagai seniman. Kami ingin tampil maksimal, walau di tengah keterbatasan dana dan tenaga,” kata Arif.

Apresiasi pun datang dari berbagai pihak. Ketut Budiasa, warga Busungbiu yang kini menetap di Denpasar, mengaku bangga melihat kekhasan Bali Utara tetap terjaga. 

“Anak-anak tampil energik. Ini bukti bahwa seni tradisional Bali Utara masih kuat,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu kurator PKB ke-47, Prof. I Wayan Dibia, memberikan apresiasi tinggi atas keberanian komposer dalam menampilkan inovasi musikal. 

“Banyak gagasan musik baru ditawarkan. Ini hal menggembirakan,” kata Guru Besar ISI Bali tersebut.

Namun, ia juga memberi masukan agar eksplorasi baru tetap mempertimbangkan kesatuan antar unsur. “Kadang tawaran baru belum diolah matang, jadi harmonisasinya belum terlalu terasa,” kritiknya.

Lebih jauh, maestro tari asal Singapadu, Gianyar itu menyebut Buleleng tetap menjadi kebanggaan karena semangat kebyar-nya yang masih menyala. 

“Buleleng tetap mempertahankan logat dan langgam yang khas, dan justru itu yang menarik,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #busungbiu #Art Centre #tari #pesta kesenian bali #tabuh #kolaborasi #Sanggar #drama #pkb #seniman #penonton #buleleng #panggung