Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Makna Sakral Penjor di Balik Perayaan Galungan dan Kuningan: Simbol Kemenangan Dharma dan Harmoni Alam

Francelino Junior • Sabtu, 29 November 2025 | 01:16 WIB

 

Penjor berukuran besar terpasang di depan Pura Desa Adat Kapal.
Penjor berukuran besar terpasang di depan Pura Desa Adat Kapal.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Hari Raya Galungan dan Kuningan kembali diperingati umat Hindu di Bali. 

Hari suci yang jatuh setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Buda Kliwon Dungulan, selalu ditandai dengan kehadiran penjor yang berjejer megah di depan rumah, pura, dan berbagai fasilitas umum. 

Penjor bukan sekadar hiasan, tetapi simbol kesucian, keharmonisan, dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Secara etimologi, kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno “Galung” yang berarti menang. Makna filosofisnya adalah kemenangan Dharma atas Adharma, menangnya kebajikan, kejujuran, dan kesucian atas kebodohan dan keserakahan duniawi. 

Dalam rangkaian inilah tradisi pembuatan dan pemasangan penjor menjadi bagian penting perayaan.

“Melalui penjor, umat Hindu menguatkan hubungan spiritual dengan Tuhan dan leluhur yang diyakini turun saat hari suci Galungan dan Kuningan untuk memberikan berkah,” ujar I Nyoman Ariyoga, Dosen Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja.

Perkembangan zaman memunculkan tren dekoratif yang dianggap menyimpang dari pakem tradisi. Bahan-bahan seperti plastik, glitter, pita sintetis, cat mencolok, hingga foam kerap digunakan demi estetika.

Secara tattwa, penjor seharusnya berbahan dasar alami sebagai representasi Panca Maha Bhuta, lima unsur alam yang menyusun kehidupan.

Adapun bahan yang dimaksud adalah bambu yang melambangkan Akasa (ruang), janur dan daun melambangkan Bayu (energi), kelapa dan buah-buahan melambangkan Apah (air), padi dan hasil bumi melambangkan Pertiwi (tanah), serta sampian dan hiasan melambangkan Teja (cahaya).

“Masuknya unsur buatan pabrik mengurangi kemurnian makna penjor sebagai sarana yadnya. Ini menandakan pergeseran pemahaman tentang bahan pembuatan penjor,” lanjut akademisi yang menekuni Ilmu Penerangan Agama Hindu itu.

Menurutnya setiap elemen penjor sebenarnya mengandung filosofi mendalam. Bambu melengkung misalnya bermakna mahameru atau pusat semesta. Selanjutnya sampian atau ketulusan bhakti.

Ada pula pala bungkah (ubi, talas) yang merupakan kekuatan bumi. Kemudian pala gantung (pisang, kelapa) yang merupakan kelimpahan pangan. padi menjadi simbol Dewi Sri sebagai sumber kesuburan, tebu bermakna keteguhan Dharma, janur berarti cahaya dan kesucian, serta lamak dan Sanggah Penjor yang bermakna simbol hubungan manusia dengan Tuhan dan leluhur.

“Semua unsur ini disarankan dan diwajibkan menggunakan bahan alami sebagai wujud syukur kepada alam,” tegas Ariyoga.

Penjor memiliki fungsi komprehensif sebagai upakara pemujaan dan penyucian lingkungan. Penjor juga dipahami sebagai jalan cahaya bagi para leluhur (pitara) saat Galungan dan Kuningan, sekaligus pelindung niskala yang meningkatkan vibrasi spiritual lingkungan.

Penjor idealnya dipasang paling tepat pada Penampahan Galungan, sehari sebelum puncak hari raya.

“Penjor boleh dipasang lebih awal, tetapi idealnya berdiri sebelum malam Penampahan agar kesuciannya menyatu dengan rangkaian Galungan,” tambahnya.

Lebih lanjut Ariyoga mengatakan landasan pemasangan penjor termuat dalam berbagai lontar keagamaan. Seperti lontar sundarigama, lontar tutur dewi tapini, dan lontar jayakasunu.

Tradisi penjor juga mendorong gotong-royong, memperkuat identitas budaya Hindu, serta menjaga moralitas generasi muda. Secara ekonomi, penjor menggerakkan perputaran usaha bambu, janur, dan bahan upacara.

“Penjor menghadirkan perpaduan harmonis antara estetika dan sakralitas, mengajarkan bahwa keindahan harus diiringi kesucian sebagai persembahan yadnya,” tandas Ariyoga. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #hindu #kuningan #hari raya #estetika #galungan #dosen #penjor #mpu kuturan #pura