Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Bulan Bahasa Bali VIII, Desa Adat Buleleng Libatkan Krama Senior Lestarikan Aksara

Francelino Junior • Kamis, 5 Februari 2026 | 16:11 WIB

 

NYURAT AKSARA: Suasana lomba nyurat aksara yang melibatkan siswa SD di Desa Adat Buleleng.
NYURAT AKSARA: Suasana lomba nyurat aksara yang melibatkan siswa SD di Desa Adat Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa Bali ke-8, Desa Adat Buleleng menggelar berbagai lomba bernuansa budaya. Mulai dari nyurat atau menulis aksara Bali hingga pidarta atau pidato berbahasa Bali. 

Menariknya, kegiatan ini turut melibatkan para senior sebagai teladan bagi generasi muda.

Seluruh rangkaian lomba dipusatkan di Wantilan Kantor Desa Adat Buleleng, Kamis (5/2/2026). 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Desa Adat Buleleng dalam menjaga eksistensi bahasa dan aksara Bali di tengah arus modernisasi.

Setiap tahunnya, lomba yang digelar dalam rangka Bulan Bahasa Bali di Desa Adat Buleleng dikemas dengan konsep berbeda. 

Pada 2025 lalu, misalnya, lomba gending rare untuk siswa TK serta ngwacen atau membaca aksara Bali bagi siswa SD. 

Baca Juga: Jelang Pemilu 2029, KPU Buleleng Gandeng SLB untuk Edukasi Pemilih

Sementara pada tahun ini, lomba difokuskan pada nyurat aksara Bali tingkat sekolah dasar.

Tahun ini, peserta lomba berasal dari 14 banjar adat di wilayah Desa Adat Buleleng. Lomba nyurat aksara Bali diikuti siswa tingkat SD, sedangkan lomba pidarta bahasa Bali diikuti oleh krama adat dari masing-masing banjar.

“Kenapa kami melibatkan senior? Itu sebagai contoh bagi generasi muda. Karena yang tua saja bisa, yang muda kenapa tidak,” ujar Ketua Panitia yang juga Penyarikan Desa Adat Buleleng, Putu Mahendra.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, jumlah peserta lomba Bulan Bahasa Bali tahun ini tidak dibatasi. Kebijakan tersebut diambil agar setiap banjar adat dapat menampilkan peserta terbaiknya.

“Desa Adat Buleleng ingin mencari yang terbaik di antara yang terbaik dari tiap banjar adat,” jelas Mahendra.

Dengan keterlibatan para senior, panitia berharap terjadi proses getok tular atau transfer pengetahuan kepada generasi muda. 

Hal tersebut dinilai penting untuk menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap bahasa, aksara, dan budaya Bali di kalangan generasi penerus.

“Sebab pelestarian harus dilakukan oleh generasi muda, agar bahasa Bali tidak menjadi terlupakan,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #desa adat buleleng #pidato #Bulan Bahasa Bali #lomba #bahasa #gending rare #Desa adat #wantilan #budaya #aksara #buleleng #siswa #Banjar Adat