Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Tradisi Unik Melasti di Nagasepaha, Krama Sucikan Diri di Penyawangan Pura Segara

Eka Prasetya • Selasa, 17 Maret 2026 | 14:17 WIB

MELASTI: Krama Desa Adat Nagasepaha melakukan ritual melasti di perbatasan Desa Nagasepaha. Di lokasi tersebut terdapat penyawangan Pura Segara.
MELASTI: Krama Desa Adat Nagasepaha melakukan ritual melasti di perbatasan Desa Nagasepaha. Di lokasi tersebut terdapat penyawangan Pura Segara.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ribuan krama Desa Adat Nagasepaha, Kabupaten Buleleng, Bali, melaksanakan prosesi melasti serangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948, Selasa (17/3/2026). 

Berbeda dari kebanyakan desa yang melasti ke laut, krama Nagasepaha justru melakukan ritual penyucian di Penyawangan Pura Segara yang berada di perbatasan desa.

Sejak pagi hari, krama telah memadati Pura Desa setempat untuk mengikuti rangkaian upacara. 

Dari sana, iring-iringan umat berjalan kaki menuju Penyawangan Pura Segara yang berjarak sekitar satu kilometer, sambil membawa berbagai sarana upacara.

Prosesi berlangsung khidmat. Puluhan sarad dari berbagai dadia serta Pura Kahyangan Desa diusung bersama, menambah semarak sekaligus kekhusyukan jalannya ritual.

Kelian Desa Adat Nagasepaha, Jro Mangku Made Darsana menjelaskan, tradisi melasti di lokasi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur. 

Penyawangan Pura Segara dipilih karena di bawahnya terdapat sumber mata air dan pemandian yang disucikan oleh masyarakat.

“Tentu ini sedikit berbeda dengan desa lainnya yang melasti ke segara. Kami cukup hanya sampai di Penyawangan Pura Segara, mengingat di bawah penyawangan ada pemandian dan sumber mata air yang disucikan,” jelasnya.

Meski demikian, krama Nagasepaha tetap melaksanakan melasti ke laut pada momen tertentu. Yakni saat piodalan agung di Pura Kahyangan Tiga, yang meliputi Pura Dalem, Pura Prajapati, dan Pura Desa. 

Ritual melasti ke laut digelar setiap dua tahun sekali dan dirangkaikan dengan prosesi mendak tirta Sanjiwani yang dimohonkan kepada Sang Hyang Baruna.

“Tujuannya untuk memohon kerahayuan serta keharmonisan bagi seluruh warga,” imbuh Darsana.

Darsana menjelaskan, secara niskala, melasti dimaknai sebagai upaya penyucian diri, sementara secara sekala diwujudkan melalui penggunaan air suci dari sumber mata air yang disakralkan.

“Maknanya sama, untuk melebur segala kekotoran pikiran, perkataan, dan perbuatan, serta memperoleh air suci bagi kehidupan,” tegasnya.

Setelah melasti, rangkaian Nyepi di Desa Adat Nagasepaha akan dilanjutkan dengan upacara Pecaruan Agung di Catus Pata Desa saat pengerupukan, Rabu (18/3/2026), yang kemudian diikuti pawai ogoh-ogoh pada malam harinya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #Nagasepaha #pura desa #krama #Pura Segara #penyucian #tradisi #nyepi #Desa adat #buleleng #melasti