RadarBuleleng.id – Wayang Genjek Bungkulan tampil di depan Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, Kamis (9/7/2026) malam, dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali ke-38 Tahun 2026.
Kesenian itu dibawakan Kelompok seni asal Banjar Dinas Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Mereka membawakan garapan berjudul "Kala Baka: Ruwat Atma Ekachakra".
Koordinator Wayang Genjek Bungkulan, Komang Juni Mahardika, mengatakan kesempatan tampil di panggung seni terbesar di Bali merupakan tonggak penting bagi perjalanan Wayang Genjek sebagai identitas budaya Buleleng.
Menurutnya, PKB menjadi ruang yang tepat untuk memperkenalkan inovasi seni tradisi kepada masyarakat luas, sekaligus menunjukkan bahwa pembaruan dapat dilakukan tanpa mengubah filosofi dan pakem yang menjadi ruh pertunjukan.
Wayang Genjek sendiri merupakan perpaduan seni pedalangan dengan vokal genjek yang lahir dari kreativitas seniman Buleleng.
Kolaborasi tersebut menghadirkan pertunjukan yang lebih komunikatif, hidup, dan dekat dengan penonton, namun tetap mempertahankan seluruh unsur utama dalam seni pewayangan tradisional.
Komang Juni menegaskan, Wayang Genjek Bungkulan tetap berpijak pada pakem pedalangan Buleleng. Salah satu ciri yang tetap dipertahankan adalah penggunaan lampu minyak sebagai sumber pencahayaan, bukan lampu listrik.
Menurutnya, setiap elemen dalam pementasan memiliki makna filosofis. Batang pisang atau gedebong yang digunakan untuk menancapkan wayang melambangkan Pertiwi atau bumi.
Kelir dimaknai sebagai langit, sedangkan nyala api lampu minyak melambangkan Surya yang menjadi sumber kehidupan sekaligus simbol keseimbangan alam.
"Yang kami ubah adalah cara penyajiannya agar lebih komunikatif dan menarik bagi penonton. Namun, nilai, cerita, dan esensi wayangnya tetap kami jaga," ujarnya.
Meski tampil lebih modern dalam penyajiannya, Wayang Genjek hingga kini masih menjadi bagian dari berbagai upacara adat di Buleleng, terutama rangkaian Manusa Yadnya seperti upacara tiga bulanan maupun mepandes.
Komang Juni menjelaskan, kolaborasi seni pedalangan dengan vokal genjek mulai berkembang di Buleleng sejak awal tahun 2000-an.
Kala itu, sejumlah dalang senior mulai memadukan kedua kesenian tersebut hingga akhirnya lahir bentuk pertunjukan yang kini dikenal sebagai Wayang Genjek.
Seiring waktu, kesenian itu terus berkembang dan menjadi salah satu identitas budaya Bali Utara yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter aslinya.
Dalam setiap pementasan, Wayang Genjek Bungkulan didukung sekitar 10 seniman yang terdiri atas dalang, penabuh gender, pemain suling, penembang genjek, serta para pendukung lainnya.
Komang Juni berharap semakin banyak generasi muda tertarik mempelajari seni pedalangan, tabuh gender, maupun genjek sehingga Wayang Genjek tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga terus hidup sebagai warisan budaya lintas generasi.
"Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk mengikuti perkembangan zaman. Justru dengan berkreasi tanpa meninggalkan esensinya, warisan leluhur akan tetap hidup dan dicintai oleh generasi berikutnya," pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya