Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Meringankan Biaya Hari Raya, Sekaa Angklung di Padangbulia Mepatung. Begini Polanya

Eka Prasetya • Rabu, 28 Februari 2024 | 18:08 WIB

 

MEPATUNG: Anggota Sekaa Angklung Sabda Ulangan melakukan mepatung menjelang hari raya Galungan.
MEPATUNG: Anggota Sekaa Angklung Sabda Ulangan melakukan mepatung menjelang hari raya Galungan.

SUKASADA, RadarBuleleng.id - Ada yang unik dari Sekaa Angklung Sabda Ulangan, menjelang hari raya Galungan.

Setiap hari raya Galungan mereka menggelar mepatung atau gotong royong untuk membeli daging. Khususnya daging babi.

Lewat mepatung, mereka bisa lebih hemat dalam mengeluarkan biaya untuk membeli daging saat hari raya datang.

Hal itu dilakukan sekaa angklung yang bermarkas di Banjar Dinas Taman Sari, Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada, sejak 7 bulan silam.

Seluruh anggota sekaa yang berjumlah 27 orang, menyisihkan upah mereka saat tampil. Upah itu dikumpulkan lewat bendahara sekaa.

Setelah 7 bulan berlalu, menjelang hari raya Galungan, sekaa akan membeli babi untuk disembelih. Jumlah babi yang dibeli tergantung harga pasaran.

Kelian Sekaa Angklung Sabda Ulangan, Wayan Walia mengungkapkan, setiap anggota sekaa menerima jatah sebanyak 3-4 kilogram daging babi. 

“Kalo dirupiahkan ini kisaran Rp.200 ribu. Mereka nanti tinggal terima bersih dan dan sudah dibungkus, karena yang mengerjakan krama saye,” terangnya.

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Hindu pada STAHN Mpu Kuturan SIngaraja, Putu Mardika menjelaskan tradisi mepatung menjadi ciri jika konsep menyama braya masyarakat di Bali masih lestari. 

Menjelang Galungan masyarakat umumnya membeli babi secara gotong royong. “Umumnya mepatung ini bisa lewat sekeha, suka-duka, ikatan banjara tau juga lewat dadia. Dari sana proses pengumpulan uang untuk membeli babi yang akan disembelih saat Penampahan Galungan. Malah ada yang mepatung daging kerbau,” kata Mardika.

Ia mengungkapkan, tradisi mepatung bisa menjadi solusi  di tengah perekonomian yang kian menghimpit. 

Sebut saja, jika seekor babi yang beratnya 120 kilogram yang dihargai paling murah Rp 3 juta, maka masyarakat bisa mepatung sampai 10 orang. 

Itu artinya, cukup mengeluarkan uang hanya Rp 300 ribu untuk mendapatkan satu paket daging babi.

Menurutnya Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) hingga Koperasi, yang merupakan lembaga keuangan di desa bisa menjadi lokomotif atau pihak ketiga yang ikut menjaga tradisi mepatung sehingga kian meringankan masyarakat.

“Keuntungannya kan bisa dibagi dalam bentuk daging babi, kemudian masyarakat bisa dilibatkan, semua bisa merayakan galungan dan kuningan,” katanya. (*)

Editor : Eka Prasetya
#babi #padangbulia #angklung #sukasada