SINGARAJA-Setiap kegiatan maupun hari besar selalu dihantui dengan permasalahan sampah, tak terkecuali saat Hari Raya Galungan.
Dari pantauan radarbali.id sejak hari Selasa (27/2) hingga Kamis (29/2), timbunan sampah memang terjadi khususnya di bak sampah besar milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buleleng di Pasar Anyar.
Selain itu, tampak juga tujuh gerobak sampah yang penuh dengan sampah, berderet di Jalan Gajah Mada.
Kepala DLH Buleleng, Gede Melandrat tak menampik adanya peningkatan sampah khususnya di Hari Raya Galungan. Tetapi, ia mengatakan bila kali ini sampah organik lebih mendominasi dibandingkan sampah plastik. Seperti sarana upacara.
"Peningkatan tentu ada, tapi lebih banyak organik, seperti bekas sarana upacara. Sedikit yang pakai plastik. Jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Kalah dulu bisa 150 ton sampah, kalau sekarang hanya 15 ton saja," kata Melandrat dikonfirmasi pada Kamis (29/2) siang.
Dominasi sampah organik, lanjut Melandrat, menjadi bukti bahwa edukasi untuk meminimalisir pemakaian sampah plastik sudah mulai terlihat.
Ia mencontohkan, Desa Adat Buleleng yang selalu menghimbau krama (warga)-nya untuk mengurangi pemakaian plastik bila ke pura. Hasilnya, krama lebih banyak menggunakan daun pisang ketimbang plastik seperti sebelumnya.
"Ini artinya bukti nyata proses edukasi, meski memakan waktu tapi nyata. Karena di saat hari raya banyak penurunan sampah plastik," sambung Kepala Dinas Lingkungan Hidup Buleleng itu.
Melandrat menyebutkan bila volume sampah meningkat mulai penampahan sampai manis Galungan. Tetapi, rata-rata sampah lebih banyak ada di wilayah desa ketimbang di perkotaan.
Untuk sampah organik, lanjut Melandrat, akan dilakukan komposting di tempat pengolahan di Desa Jagaraga, Kecamatan Buleleng. Sedangkan sampah residu akan diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bengkala.
Ia menyebutkan bila armada yang menangani sampah organik dan anorganik milik DLH Buleleng tetap sama. Tetapi dibedakan sesuai jenis sampah.
Khusus sampah organik yang akan dilakukan komposting di Desa Jagaraga, ada dua armada dengan kapasitas lima ton per harinya.
"Untuk sampah organik, kami bawa ke komposting di Desa Jagaraga. Kalau masuk ke kontainer kan itu sampah residu jadi ke TPA Bengkala. Armada yang digunakan sama, tapi yang khusus meng-handle sampah komposting ada dua armada, dengan kapasitas lima ton per hari," pungkas Melandrat. ***
Editor : Donny Tabelak