SINGARAJA, radarbuleleng.id- Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kabupaten Buleleng melakukan peninjauan ke sentra produksi cabai rawit di Kecamatan Gerokgak pada Selasa (30/7).
Ini dilakukan untuk mengendalikan inflasi, lantaran harga cabai rawit yang cenderung naik.
Dari data Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Dagperinkop UKM) Kabupaten Buleleng, harga cabai rawit merah pada Senin (29/7) tercatat di harga Rp 69 ribu.
Kemudian pada hari Selasa (30/7), harganya tidak mengalami perubahan alias tetap Rp 69 ribu. Lalu pada Rabu (31/7), harga cabai rawit merah menjadi Rp 65 ribu.
Dari pantauan Satgas Pangan Kabupaten Buleleng, mulai dari Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, ditemukan bahwa panen normal cabai rawit di salah satu sentra, yakni Kelompok Tani Unggul Mulya mengalami penurunan.
Di sana diketahui bahwa cabai yang ditanami merupakan varietas ori pada lahan seluas 25 are. Rata-rata produksinya adalah 30 kilogram per hari, dengan harga jual Rp 50-55 ribu per kilogramnya.
”Di sini biasanya jika panen normal hasilnya delapan kuintal per hari dikirim ke pengepul di Pasar Anyar. Namun untuk saat ini, hanya 3-4 kuintal per hari,” jelas Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, I Wayan Susila.
Masih di Desa Pemuteran, Satgas Pangan Kabupaten Buleleng juga mengunjungi Kelompok Tani Harapan Baru.
Di sana penanaman cabai rawit di lahan satu hektar ternyata sudah panen petik pertama.
Panen kedua untuk cabai rawit dengan usia tanaman 3,5 bulan itu, diperkirakan terjadi sampai empat bulan ke depan.
Sedangkan di Desa Pejarakan dan Sumberklampok, yang memiliki potensi luas tanam mencapai 540 hektar, namun baru ditanami 20 hektar saja.
”Faktor produksi tanaman yang tidak maksimal, disebabkan oleh berkurangnya kesuburan tanah, dan tidak ada pergiliran varietas,” sambung Susila.
Satgas Pangan Kabupaten Buleleng kini terus melakukan pemantauan terhadap fluktuasi harga cabai rawit. Apalagi harganya kini mengikuti perkembangan harga di Pulau Jawa.
Contohnya ketika terjadi kekeringan di Pulau Jawa yang menyebabkan harga cabai rawit tinggi, di Buleleng juga ikut naik meskipun produksinya mencukupi.
”Peninjauan yang kami lakukan saat ini, harapannya agar rantai pasok dapat diperpendek. Sehingga kestabilan harga dapat tetap terjaga,” tutup Susila. ***
Editor : Donny Tabelak