SINGARAJA, radarbuleleng.id- Berkaitan dengan Hari Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) yang diperingati tiap tanggal 1 Desember, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng mencatat ada 204 orang di Bali utara yang ternyata terjangkit HIV/AIDS, periode bulan Januari-Oktober 2024.
Data yang diterima, dari total 204 kasus baru itu, 120 diantaranya merupakan kasus HIV dan 84 lainnya AIDS. Usia 20-29 tahun menjadi yang terbanyak dengan 64 kasus, lalu usia 30-39 tahun dengan 54 kasus, usia 40-49 tahun dengan 40 kasus, lalu usia 50-59 tahun dengan 23 kasus, usia di atas 60 tahun dengan 12 kasus, usia 15-19 ada 8 kasus, usia 5-14 ada 2 kasus, dan usia 1-4 tahun tercatat 1 kasus.
Merujuk pada faktor resiko, dari 240 orang itu ternyata 147 diantaranya terjangkit karena melakukan seks heteroseksual, 26 kasus akibat faktor lainnya, 24 kasus akibat perilaku homoseksual, 3 kasus karena perilaku biseksual, dan masing-masing 2 kasus karena perinatal dan tato.
Sedangkan melihat dari jenis kelamin, tercatat ada 124 laki-laki dan 80 orang perempuan yang tercatat sebanyak 204 orang pengidap HIV/AIDS baru di tahun 2024 ini.
Sementara untuk tahun 2023, kasus HIV/AIDS yang baru di Buleleng tercatat sebanyak 259 kasus. Tahun 2022 ada 221 kasus, tahun 2021 ada 128 kasus, dan 2020 ada 173 kasus.
”Kasus HIV/AIDS di Buleleng meningkat, terutama ditularkan dari perilaku seks yang tidak aman. Bahkan sebanyak 23 orang pengidap adalah ibu hamil,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD., pada Senin (2/12) sore.
Dilanjutkan lagi, laki-laki menjadi yang paling banyak menjadi korban HIV/AIDS, karena ekspresi seksualnya yang lebih besar, suka petualangan, bahkan agresif.
Hal ini pun ternyata ada solusi sementaranya, yakni melalui banyaknya penjaja baik yang didapatkan dengan mudah, baik secara online maupun offline.
Kalangan remaja utamanya pelajar dan mahasiswa, kini lebih banyak menggunakan aplikasi hijau untuk mencari penjaja seksual di luaran.
Kata dr. Arya, hal ini bukan lagi perilaku namun menjadi trend, yang tidak bisa disaring dengan baik.
Namun untuk yang sudah berpasangan, HIV/AIDS cenderung menyebar lewat kasus perselingkuhan. Meski efektivitas penyebaran HIV/AIDS lewat hubungan seksual berkisar 60-80 persen, dibandingkan lewat jarum suntik yang efektivitasnya hampir 90 persen.
”Kasus HIV/AIDS di Buleleng seperti fenomena gunung es, karena ketahuan setelah adanya keluhan masyarakat lalu datang ke RS, ternyata sudah stadium 3 & 4,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Direktur RSUD Buleleng itu.
Berdasarkan data dari Dinkes Provinsi Bali, Kabupaten Buleleng mencatat adanya 3.863 orang pengidap HIV/AIDS yang merupakan akumulasi dari tahun 1987 hingga September 2024.
Buleleng berada di peringkat ketiga, di bawah Kota Madya Denpasar dan Kabupaten Badung.
Dinkes Buleleng pun sudah melakukan pendampingan kepada 1.435 orang untuk dilakukan terapi, setidaknya agar bisa sembuh dari HIV/AIDS.
Sedangkan jumlah sisanya kebanyakan terbentur faktor ketaatan dan keseriusan berobat.
Padahal pengobatan mereka bisa dilakukan di sejumlah puskesmas yang diberi kewenangan dan RSUD Buleleng.
Mengenai data dari Dinkes Bali itu, dr. Arya mengajak masyarakat Buleleng menerapkan konsep ABCDE. Yakni A (Abstinence/puasa seks), B (Be faithful/saling setia), C (Condom use/gunakan kondom pada seks berisiko), D (Do not inject/jangan coba-coba menyuntik narkoba), dan E (Education/pelajari HIV secara mendalam).
”Kami juga mengajak seluruh masyarakat yang memiliki perilaku berisiko, setidaknya melakukan Voluntary Counselling and Testing (VCT). Termasuk dengan menambah edukasi dan literasi. Lawan virusnya, dukung penderitanya,” ajaknya.***
Editor : Donny Tabelak