SINGARAJA, Radarbuleleng.jawapos.com- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng akan memberikan pendampingan, kepada dua orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali utara yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Mulai dari pendampingan psikis hingga minat dan bakat.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Buleleng, I Putu Kariaman Putra saat mengunjungi rumah Nengah Sunaria, 35, di Desa Jinengdalem dan Kadek Agus Ariawan, 37, di Kelurahan Liligundi, korban TPPO asal Buleleng pada Selasa (25/3) siang.
Pihaknya menyadari, kalau dua orang PMI ini mengalami trauma yang mendalam. Sebab hampir delapan bulan mereka mengalami penyiksaan yang tiada henti di Myanmar.
”Dengan situasi korban, kami tindak lanjuti. Sehingga mereka akan didampingi pekerja sosial, untuk pemulihan secara psikologis,” ujarnya pada Rabu (26/3) siang.
Dinsos Buleleng juga melakukan penguatan pada kedua korban, yang asesmennya dilakukan oleh pekerja sosial. Bantuan berupa sembako hingga pakaian layak pakai, juga diberikan kepada korban.
Kariaman menyebut, untuk saat ini Sunaria dan Agus dialihkan jaminan kesehatannya dari pekerja penerima upah menjadi penerima bantuan iuran (PBI), yang dibiayai melalui APBD. Sebab mereka untuk saat ini tidak bisa bekerja.
Selain itu, dilakukan juga pendampingan untuk mendalami minat dan bakat Sunaria dan Agus.
Sehingga dalam waktu dekat, mereka akan diberikan pelatihan agar tepat sasaran, sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki sebelumnya.
”Pada intinya, kami berupaya membantu keduanya lepas dari trauma. Juga mengupayakan agar keduanya betul-betul mandiri,” tutup Kariaman.
Untuk diketahui, Sunaria dan Agus akhirnya kembali pulang dari Myanmar pada Jumat (21/3) malam, setelah menjadi korban TPPO di Myanmar.
Keduanya mengaku dipaksa bekerja sebagai scammer atau pelaku penipuan online di sebuah tempat yang disebut KK Park di sebuah lembah di tengah hutan yang ada di wilayah Hpa Lu, daerah terpencil di Myawaddy, Myanmar.
Rentetan penyiksaan pun turut menyertai mereka dan PMI asal Indonesia lainnya. Hal ini membuat mereka mengalami trauma yang mendalam.***
Editor : Donny Tabelak